Hebatnya kita, acapkali bisa bertahan di bawah hujan makian atasan. Terbiasa menelan bising jalan, walau menguras waras dalam kelelahan. Dan tak sedikit mengumbar maklum dari perilaku sejawat meski dada sesak penuh kekesalan. Namun mengapa pertahanan itu mendadak rapuh saat pelaku justru orang terdekat? Sang anak mendadak diam dalam amarah ketika teguran kecil untuk tidak pulang larut malam terlontar. Sang bunda wajahnya mendingin, saat hidangan hangat yang disiapkannya terabai tak disentuh. Dan ayah, tak kalah gusar kala masukan tulus dirasa mengoyak egonya. Wajar ketika di luar rumah orang cenderung waspada; mengenakan ‘jubah zirah’ selayak prajurit di medan laga. Perlindungannya berlapis, berupa…
-
-
”Tahukah engkau siapa aku?!”Dengan wajah merah padam, Gubernur Khurasan di masa Kekhalifahan Umayyah itu merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia tak terima saat seorang ulama menegur perilaku tinggi hatinya. ”Tentu aku tahu persis siapa dirimu,” jawab sang ulama, Mutarrif bin Abdullah, tenang namun menghujam. “Awalmu adalah air mani yang menjijikkan dan akhirmu menjadi bangkai yang dikebumikan. Dan di antara kedua masa itu, engkau ke mana-mana membawa kotoran dalam perutmu.” Meruntuhlah seluruh keangkuhannya sang Gubernur hingga egonya menyingkir dalam kesadaran sepenuh jiwanya. Benar adanya, karat tak selalu langsung mematahkan tiang besi. Namun ia berawal dari bintik kecil akibat lembap yang dibiarkan hingga…
-
Di kota Madinah hidup seorang ulama besar di kalangan Tabi’in yang terkenal zuhud dan mulia, Zainal Abidin Rahimahullah. Namun semasa hidup beberapa orang beranggapan ia kurang peduli, lantaran terlihat jarang sekali bersedekah. Di zaman itu masyarakat justru mengelu-elukan seorang dermawan yang selalu memberi makanan pokok pada yang membutuhkan. Setiap kali subuh menjelang, puluhan keluarga miskin dan para janda kerap mendapati sekarung gandum di pintu rumahnya. Tak pernah ada yang tahu siapa sang dermawan tersebut, padahal itu sudah berlangsung lama dan berkesinambungan. Hingga satu waktu tersiar berita Zainal Abidin Rahimahullah, cucu Ali bin Abi Thalib RA pulang ke haribaan. Saat prosesi…
-
(Romantika Iduladha) Cinta dan kelekatannya sering kali bekerja seperti pasir di telapak tangan. Ketika pasir berada di atas telapak tangan yang terbuka, ia akan menetap utuh dan tenang. Namun manakala ambisi mengepal mulai menyusup, pasir perlahan berjatuhan di antara celah jari-jemari. Ironis lagi bila cengkramannya semakin dipererat, dapat dipastikan jumlah pasir yang tertinggal akan semakin sedikit. Dan itu kenyataan yang tak bisa dipungkiri saat kita memperlakukan “Ismail” dalam diri–entah berupa pasangan, anak, harta, jabatan, popularitas atau sekadar impian yang telah terwujud. Kita menjadi posesif; ketat mengontrol keberadaan itu semua untuk tetap menjadi milik seutuhnya, hingga perlahan maknanya terkikis. Dan tanpa…
-
“Life begins at forty,” begitu pepatah populer menyebut. Ironinya, di satu sisi kita disebut baru “memulai” hidup, namun pada bagian lain tubuh justru mulai mengirimkan sinyal penurunan. Secara fisiologis, vitalitas tak lagi sebugar di usia dua puluhan. Dan nyatanya memang ada yang berubah seiring perjalanan waktu menua; daya ingat menurun, massa otot menyusut, rambut menipis dan memutih, dan kandung kemih yang perlahan melemah. Terlebih bagi perempuan, di fase ini fluktuasi hormon progesteron dan estrogen menjadi hal tak terelakkan. Sederhananya, tubuh seolah sedang melakukan “pengereman” alami menuju kerentaan. ”Life begins at forty,” jangan terburu khawatir, kabar baiknya sains sepakat bahwa usia…
-
Adalah hati, gejolak tak bisa ditebak. Kadang ia menghampir takwa, saat berikutnya menggandeng fahsya ( kekejian). Satu waktu meledak menjelma amarah, kala lain tenggelam dalam kedamaian yang pasrah. Dalam jiwa ada seonggok daging, apabila baik, maka baiklah tubuhnya, dan begitu pula sebaliknya– demikian Rasulullah pernah berkabar. Tak ada yang bisa menduga, kerentanannya untuk beralih suasana terjadi begitu cepat, apalagi dalam kondisi tak terjaga. Iman al Ghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulumuddin menyebut, qolb/ hati bukan hanya organ tubuh, melainkan esensi emosi dan ingatan. Karenanya beliau berpendapat jika penyakit kalbu disembuhkan akan menambah ilmu intuisi spiritual. Teringat kisah fantasi dalam serial Snow…
-
Siapa Engkau?Laku heroikmu tak membiarkan jiwa lumpuh dalam silau gemerlap, tetap sahaja tak terpikat buaian puja. Memilih menerobos celah sempit pertahanan kubu lawan di kala yang lain telah kehilangan daya dan tersungkur keraguan Siapa Engkau?Berjubah zirah tanpa wajah. Memilih kejernihan di tengah buramnya niat, tetap nyata di antara tatapan nanar. Sosokmu menyisakan tanya di setiap benak yang takjub, tak terkecuali bagi sang panglima, Maslamah bin Abdul Malik. Usai genderang perang reda, sang panglima menitah prajurit misterius itu untuk menghadap. Tak lama, muncul seorang lelaki meminta bertemu. Ia mengaku tahu siapa kesatria di balik zirah tersebut, namun ia mengutarakan prasyarat yang…
-
Hidup tidak sekadar tentang ‘aku’ melainkan ada ‘kita’. Konsep ‘kita’ menuntut ‘aku’ bukan lagi sebagai pusat semesta. Menjadi soal untuk memahami orang lain bukan hanya pada tataran logika, tapi bagaimana kerelaan hati untuk bisa berlapang dada, menekan ego dan berhenti pada prasangka tak baik. Menjalin hubungan, baik dalam wujud organisasi, pertemanan, keluarga, suami-istri maupun relasi lain acapkali dinamikanya menyulut api konflik; mulai dari rasa tak nyaman sampai berujung perselisihan. Konflik terjadi karena adanya dua atau lebih pandangan, kepentingan, dan kebutuhan yang tidak selaras. Pada satu titik, konflik bisa terjebak ajang adu beban; merasa paling berjasa dan berkepentingan. Seolah hanya diri…
-
Wanita Bani Junainah itu tertunduk lesu. Raut wajahnya menyiratkan keresahan mendalam dan menyiksa. Tatapannya jua ragu; antara malu, jijik, bingung dan takut atas aib besar yang telah diperbuat. “Ya Rasulullah aku telah berzina, tegakanlah hukuman pada diriku.” Tutur wanita Bani Junainah. Sang Nabi SAW hanya terdiam. “Ya Rasulullah sungguh aku telah berzina dan aku tengah mengandung janin dari perzinahanku!” Wanita Bani Junainah mempertegas pengaduannya. “Pulanglah dan lahirkan anakmu.” Titah Rasulullah seraya berpesan kepada wali wanita tersebut untuk turut menjaganya sampai masa persalinan. Waktu melahirkan telah usai. Bilangan bulan tak menyurutkan tekad wanita Bani Junainah untuk membersihkan diri. Ia bergegas menghadap…
-
Adalah waktu, tiap detiknya berpacu tanpa peduli. Terus melaju meninggalkan kesan dalam kenangan. Rasanya baru sekejap pagi menyapa, di ujung kelam sudah menunggu. Kehidupan terus bergulir mengikuti irama keadaan yang tak bisa diprediksi alur ceritanya dari sudut pandang manusia. Adakala kesenangan menghampiri, tapi tak menutup kesedihan datang merundung. Satu hari boleh jadi diri berada pada puncak cahaya, esok lusa meredup di titik nestapa. Itulah hidup, suka-duka akan selalu ada membersamai manusia seiring melajunya usia. Penulis buku Filosofi Teras, Henry Manampiring, pernah mengutip “Survei Khawatir Nasional” di tahun 2017. Simpulan hasilnya cukup mencengangkan: sebanyak 63% dari 3.634 responden merasa lumayan khawatir…