Tidak semua yang “terlambat” itu gagal. Dan tidak semua yang gagal itu tak akan menemui kesuksesan pada akhirnya. J.K. Rowling misalnya, penulis serial legendaris Harry Potter. Novel gagasannya lahir pada tahun 1990, namun baru bisa diterbitkan tujuh tahun kemudian, setelah mengalami penolakan dari 12 penerbit. Peluang emas didapat saat Bloomsbury Publishing merilisnya pada tahun 1997. Di luar dugaan, Harry Potter merajai dunia literasi dan memecahkan rekor penjualan tercepat pada 2007, yakni sebanyak 2,65 juta eksemplar habis hanya dalam sehari di Inggris. Kisah penyihir cilik ini bahkan sukses besar saat diadaptasi ke layar lebar. Meski mendapat penolakan berkali-kali dan hampir menyerah…
-
-
Wanita Bani Junainah itu tertunduk lesu. Raut wajahnya menyiratkan keresahan mendalam dan menyiksa. Tatapannya jua ragu; antara malu, jijik, bingung dan takut atas aib besar yang telah diperbuat. “Ya Rasulullah aku telah berzina, tegakanlah hukuman pada diriku.” Tutur wanita Bani Junainah. Sang Nabi SAW hanya terdiam. “Ya Rasulullah sungguh aku telah berzina dan aku tengah mengandung janin dari perzinahanku!” Wanita Bani Junainah mempertegas pengaduannya. “Pulanglah dan lahirkan anakmu.” Titah Rasulullah seraya berpesan kepada wali wanita tersebut untuk turut menjaganya sampai masa persalinan. Waktu melahirkan telah usai. Bilangan bulan tak menyurutkan tekad wanita Bani Junainah untuk membersihkan diri. Ia bergegas menghadap…
-
Adalah waktu, tiap detiknya berpacu tanpa peduli. Terus melaju meninggalkan kesan dalam kenangan. Rasanya baru sekejap pagi menyapa, di ujung kelam sudah menunggu. Kehidupan terus bergulir mengikuti irama keadaan yang tak bisa diprediksi alur ceritanya dari sudut pandang manusia. Adakala kesenangan menghampiri, tapi tak menutup kesedihan datang merundung. Satu hari boleh jadi diri berada pada puncak cahaya, esok lusa meredup di titik nestapa. Itulah hidup, suka-duka akan selalu ada membersamai manusia seiring melajunya usia. Penulis buku Filosofi Teras, Henry Manampiring, pernah mengutip “Survei Khawatir Nasional” di tahun 2017. Simpulan hasilnya cukup mencengangkan: sebanyak 63% dari 3.634 responden merasa lumayan khawatir…
-
Wanita itu membagi 3 butir kurma pemberian bunda Aisyah RA kepada kedua putrinya, satu tersisa untuk ia santap. Belum lagi sempat memakan, sang ibu gamang melihat tatapan kedua anaknya. Ia mengerti, pandangan menyiratkan rasa lapar yang belum tuntas. Seketika iba menyelinap membangkit naluri keibuan, ia membelah kurma miliknya dan memberikan kembali kepada kedua putrinya, walau ia sendiri menahan perihnya lapar. Bunda Aisyah tertegun menyaksikan ketulusan wanita sederhana yang menghampiri rumahnya. Ada gores haru tersimpan dalam kalbu. Tapi apa daya hanya 3 butir kurma yang bisa ia beri. Tak kuasa bunda Aisyah memendam rasa, cerita tertumpah tatkala Rasulullah berada di sisi.…
-
Bintang bersinar kala malam tiba. Ia tak takut sinarnya tak berguna. Bintang percaya, gulita adalah waktu yang tepat untuk berpijar, karena nilainya meninggi meski redup yang diberi. Mentari tak pongah, berdiri gagah berenergi kuat berdaya. Ia tak cemas tenggelam saat senja merambah kelam. Mentari percaya esok akan kembali terang atas ketentuan Tuhannya. Bunda Musa AS juga serupa, berteguh hati melarungkan bayinya di sungai terpanjang di jagat semesta. Ia tak mengerti takdir apa kelak yang menimpa Musa kecilnya. Gundah menghantui, tapi bunda Musa percaya, titah Tuhan-nya tak pernah mendzalimi. Seringnya banyak orang terlupa, menganggap Allah membiarkan manusia hidup tanpa campur tangan-Nya.…
-
Seekor anak jerapah baru dilahirkan, ia terhempas dari ketinggian sekitar 2 meter. Belum lagi tuntas penderitaan, sang induk bergegas menendang anak jerapah yang masih gontai berdiri tak berdaya. Sepintas tampak perlakuan kasar di luar kelaziman. Tapi itulah hidup. Sang induk bukan tak sayang, bukan tak cinta. Mengandung anak jerapah adalah proses terlama di kalangan mamalia, hampir 15 bulan lamanya. Alangkah naif jika itu dilakukan sebagai tanda kebencian, apalagi induk jerapah hanya bisa melahirkan satu anak di setiap periode kehamilannya. Induk jerapah tentu lebih paham. Kehidupan ke depan akan lebih kejam. Apalagi anak jerapah sasaran empuk predator buas di belantara. Asbabnya…
-
Ada lelah tersimpan dalam diam. Ada ‘luka’ yang tertahan dalam ketegaran. Keperkasaan laksana simbol pengekang emosi, padahal nun jauh di dasar hati banyak rasa yang hendak diungkap. Lisan membisu tapi hasrat menggebu, inginnya ayah mendekap seraya berucap “aku mencintaimu nak”. Tapi ego menyela hingga lidah kelu kembali. “Ayah cinta pertama bagi anak perempuannya dan pahlawan bagi anak lelakinya.” Mungkin kalimat tersebut menggelitik buat para ayah, apa kaitannya? Memang tak kasat mata, karena spirit tak nyata tapi bisa dirasa. Bahkan efeknya terus menyala terngiang dalam bilangan usia. Meminjam simpulan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Studi Fenomenologis, dampak fatherless dapat mempengaruhi perkembangan…
-
Kesedihan mana lagi yang bisa dilukiskan saat menyaksikan kekasih tiada dalam kebiadaban? Jasad tak hanya terbujur kaku dengan mata tombak menghujam, namun tubuh jua koyak dan jantung dilumat seseorang. Apa rasanya jiwa, ketika pelaku kekejian datang menghampir memohon maaf? Sementara bayangan tragis kengerian kejahatan masih melekat dan menari dalam ingatan. Tak terbayang, seandainya Wahsyi bin Harb dan Hindun binti Utbah RA bukan hidup di zaman penuh berkah. Tak terpikir sekiranya keduanya menganiaya seseorang bukan pada kekasih manusia berhati mulia. Mungkin selamanya tak ada kata maaf dan pertaubatan ibarat jauh panggang dari api. Kebaikan-kebaikan mereka tak akan pernah dikenang, dan sejarah…
-
Wanita mulia itu menjawab gamang, rasa malu jauh mengungguli keinginannya. Maksud hati ingin meminta bantuan pelayan pada sang ayah, apa daya lidah kelu untuk mengungkap, akhirnya hanya terlontar : “Tidak ada urusan yang kuingini ayah, aku hanya menyampaikan salam atasmu.” Meski sang suami sudah berupaya turut serta membantu pekerjaan rumahnya, seakan kelelahan tak mau berkesudahaan. Beban fisik seolah telah melampaui batas kemampuan dirinya. Hingga di hari berikutnya ia kuatkan tekad kembali menjumpai sang ayah, dan kali ini sang suami menyertai. Dari Ali r.a., ia berkata, Fatimah telah mengadu kepadaku tentang kedua tangannya yang lelah membuat adonan dari tepung gandum. Lalu…
-
“Ayah, aku menangis karena batu penggiling ini, dan aku menangisi kesibukanku yang silih berganti. Ayah tolong sampaikan pada suamiku, Ali bin Abi Thalib RA agar ia mencarikan seseorang yang membantu pekerjaanku.” Fatimah mencurahkan gundah hatinya, ketika sang ayah bertanya apa gerangan yang membuatnya ia bersedih. Sang ayah, Rasulullah ﷺ baru saja berkunjung ke rumah syahidah Fatimah Az Zahra dan mendapatinya tengah menangis di dekat penggilingan batu. Rasulullah ﷺ terdiam, lantas beranjak menuju batu gilingan. Tak berapa lama sang Nabi ﷺ melemparkan segenggam biji gandum sambil mengucap bismillah, maka berputarlah batu menggiling biji-bijian gandum sampai beliau ﷺ menitahnya berhenti. “Fatimah, bila…