Inspirasi

Bukan Soal Menuai, Tapi Niat Menanam

0
(0)

​Seorang lelaki renta memikul dua ember retak berisi air. Sesekali air menetes dari celahnya, membasahi tanah sepanjang jalan dari mata air menuju pemukiman yang sebagian besar penghuninya berusia lanjut.

​Berkali-kali ia mengangkut air untuk persediaan dirinya dan tetangga sekitar. Hingga suatu hari, seorang pemuda menegurnya. Sang pemuda merasa upaya itu sia-sia karena air di dalam ember selalu berkurang akibat kebocoran, lalu menyuruhnya mengganti ember tersebut.

​Mendengar teguran itu, lelaki renta tersebut justru mengajak sang pemuda menyusuri jalan yang biasa ia lewati. Tampak di sepanjang jalan setapak, sisi kanan dan kirinya ditumbuhi sayuran hijau yang menyejukkan mata.

​”Wahai anak muda, aku tahu emberku retak dan aku tak punya gantinya. Oleh karena itu, sengaja kutanam benih sayuran di sepanjang perjalanan agar rembesan air yang jatuh bisa sekaligus menyiraminya. Seperti yang kau lihat, benih itu kini menjadi sayuran hijau yang bermanfaat,” ujar sang bapak seraya tersenyum bijak.

​Orang boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi jejak kebaikan sejati meninggalkan legacy yang melipatgandakan nilai kebermanfaatan.

​Bagai harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan budi. Umur manusia sejatinya diukur dari sejauh mana kebaikan yang telah ditanamnya. Sekecil apa pun itu, kebaikan tetap memberi nilai.

​Siapa yang menabur, dialah yang menuai. Maka, jangan pernah meremehkan setiap kebaikan. Mungkin ia tak megah di mata orang banyak, tetapi bukankah kita berbuat bukan sekadar untuk mengejar riuhnya decak kagum manusia? Akan teramat lelah jika itu yang diharapkan, sebab manusia adalah tempat ketidakpastian—saat ini memuji, besok bisa mencela. Tetaplah bersemangat dalam kebaikan, meski harus berjalan di lorong sempit yang tak terlihat.

​Kita butuh pada kebaikan yang diberikan secara tulus. Kebaikan sejati memiliki aturan main yang tak pernah merugikan. Setidaknya ada empat landasan agar kita tetap mantap melangkah:

  • Nilai Mutlak dari Sang Pencipta Kebaikan tidak diukur dari seberapa riuh tepuk tangan manusia, melainkan sedalam apa ketulusan niat di dalam dada. Keikhlasan inilah yang meneguhkan seseorang untuk terus melangkah.
  • Hukum Tabur-Tuai Energi positif akan selalu kembali kepada pemiliknya, meski bentuk, cara, dan waktunya datang dari arah yang tak pernah disangka.
  • Jejak dan Pewarisan (Legacy) Usia manusia terbatas, tetapi kebaikan meninggalkan jejak inspirasi di banyak hati. Ia terus hidup melintasi zaman, membuat nama pemiliknya tetap membumi meski jasad telah berkalang tanah.
  • Ketenangan Jiwa Menanam kebaikan adalah cara menyapa kedamaian batin. Saat memberi, sejatinya kita sedang melembutkan jiwa sendiri.

“Jika hari kiamat terjadi dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon kurma, maka jika ia mampu untuk tidak berdiri sebelum menanamnya, hendaklah ia menanamnya.” (HR. Ahmad)

​Kebaikan tak boleh berhenti hanya karena usaha kita tampak sederhana di tengah megahnya dunia. Anjuran menanam kurma—yang membutuhkan waktu tumbuh sangat lama—di saat kiamat hendak tiba, menyiratkan bahwa kebaikan tidak menuntut hasil, melainkan penegasan atas sebuah upaya.

​Pada akhirnya, nilai manusia tidak diukur dari seberapa banyak buah yang berhasil ia panen, melainkan dari ketulusan jemarinya yang tetap mau menanam hingga detik terakhir kehidupan.

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.