Di kota Madinah hidup seorang ulama besar di kalangan Tabi’in yang terkenal zuhud dan mulia, Zainal Abidin Rahimahullah. Namun semasa hidup beberapa orang beranggapan ia kurang peduli, lantaran terlihat jarang sekali bersedekah.
Di zaman itu masyarakat justru mengelu-elukan seorang dermawan yang selalu memberi makanan pokok pada yang membutuhkan. Setiap kali subuh menjelang, puluhan keluarga miskin dan para janda kerap mendapati sekarung gandum di pintu rumahnya. Tak pernah ada yang tahu siapa sang dermawan tersebut, padahal itu sudah berlangsung lama dan berkesinambungan.
Hingga satu waktu tersiar berita Zainal Abidin Rahimahullah, cucu Ali bin Abi Thalib RA pulang ke haribaan. Saat prosesi pengurusan jenazahnya, sebagian orang yang terlibat, menyaksikan punggungnya mengeras seperti jejak gesekan benda berat yang kerap dipanggulnya. Dan ironisnya, sejak kematian beliau tak pernah lagi dijumpai sekarung gandum di depan rumah para fakir miskin dan janda. Lambat laun akhirnya terkuak, “sang dermawan senyap” tak lain adalah sang ulama yang pernah diduga sebagai orang yang “kurang peduli”.
Kebaikan akan selalu menemukan jalan pulang ke empunyanya meski dilakukan dalam kesunyian. Fenomena alam jua tak menyangkal, seperti saat kita berteriak di lembah yang bertebing tinggi; suara yang keluar dari lisan akan kembali terdengar jelas dan bertambah bilangannya dalam bentuk gema.
Gema terdengar jelas di ruang sunyi, karena kesunyian memberi panggung padanya. Berbeda saat di keramaian, pantulan gema tetap ada tapi terbungkam dengan kegaduhan. Pun kebaikan tak selalu berdiri di atas tepukan manusia untuk bisa terdengar. Ia hanya butuh ketulusan untuk mulai menyuarakan. Ketika Zainal Abidin Rahimahullah memanggul gandum-gandum dalam kegelapan, sejatinya ia tengah menyingkirkan ego kepopuleran semu. Sang Tabi’in tengah mengajarkan level tertinggi dalam memberi; tangan kiri yang tak tahu ketika tangan kanan mengulurkan bantuan.
Pay it Forward! Memberi dalam senyap memang tak pernah laku di tengah dunia yang bising validasi. Namun ia tetap hidup di hati-hati penerima kebaikan. Bayangkan, bagaimana perasaan puluhan keluarga yang terbantu dari sekarung gandum Zainal Abidin Rahimahullah? Tak sekadar mengenyangkan perut yang lapar, namun pemberian tersebut pada ujungnya menggugah doa dan asa akan masih adanya orang yang peduli terhadap sesamanya.
Dan tak bisa ditampik, hati yang ternyuh dari ketulusan orang yang memberi, memunculkan energi cinta untuk menjadi perpanjangan tangan kebaikan kepada yang lainnya, hingga tanpa sadar kebaikannya terus merambat sampai jangkauan yang tak terduga.
Sama hal saat kita melempar batu kecil dalam kolam yang tenang. Perlahan batu itu akan tenggelam menuju dasar kolam, namun tak selesai sampai disitu, jejak tempat batu mendarat di permukaan air akan membentuk riak yang melingkar dan terus melebar hingga menyentuh tepi kolam. Demikian dengan kebaikan kecil yang disemai, tak ada kesia-siaan, energinya akan terus merambat, meluas bagi orang sekitar yang berada di radius “riak” tersebut.
Maka jangan lelah menebar kebaikan, meski sunyi jalannya. Tetaplah menjadi alasan orang lain bisa tersenyum di atas kesulitannya. Kalaupun belum sanggup memanggul “karung gandum” sebagai pengganjal lapar, setidaknya sikap dan lisan tetap terjaga untuk tidak menjadi duri yang menambah luka. Dan kalaupun belum berani menyuarakan kebaikan, paling tidak jangan mudah memadamkan lentera harapan yang sedang dinyalakan orang lain lantaran ego kita yang menyembul.
#Narasiuntuksivilisasi