(Romantika Iduladha)
Cinta dan kelekatannya sering kali bekerja seperti pasir di telapak tangan. Ketika pasir berada di atas telapak tangan yang terbuka, ia akan menetap utuh dan tenang. Namun manakala ambisi mengepal mulai menyusup, pasir perlahan berjatuhan di antara celah jari-jemari. Ironis lagi bila cengkramannya semakin dipererat, dapat dipastikan jumlah pasir yang tertinggal akan semakin sedikit.
Dan itu kenyataan yang tak bisa dipungkiri saat kita memperlakukan “Ismail” dalam diri–entah berupa pasangan, anak, harta, jabatan, popularitas atau sekadar impian yang telah terwujud. Kita menjadi posesif; ketat mengontrol keberadaan itu semua untuk tetap menjadi milik seutuhnya, hingga perlahan maknanya terkikis. Dan tanpa sadar kita justru merusak hakikatnya atas nama takut kehilangan.
Resahnya kita hari ini, sering kali meresapi kecemasan bukan karena kurangnya kepemilikan, melainkan asbab terlalu lelah erat menggengamnya dalam bentuk ambisi, ekspektasi dan validasi. Kita mendadak lupa, bahwa karunia didapat bukan semata kekuatan diri, tapi wujud kecintaan-Nya.
Ingatkah Qorun??? Sosok hartawan yang memiliki kunci-kunci kemewahan berlimpah ruah. Qorun merasa kejayaan harta akan menuai kebahagiaan. Tapi nyatanya, keasyikan dalam menerima ‘pasir’ dunia membuatnya ingin semakin erat mencengkram. Alhasil tujuan hidupnya meredup, maknanya tergadai dan yang tersisa hanya kepongahan saat ia berteriak “Hartanya didapat atas kehebatan dirinya sendiri”. Sungguh sebuah Arogansi yang menenggelamkan.
Ditilik dari sisi ilmiah semakin besar obsesi seseorang mengontrol sesuatu yang di luar jangkauannya, akan semakin meningkatkan kecemasan. Demikian sebaliknya jika hati bersiap menerima apa yang ada di luar diri dengan ikhlas dan tawakal, di saat itulah fisiologis tubuh akan mengaktifkan sistem parasimpatik untuk menurunkan hormon kortisol pemicu stres.
Adalah lumrah, manusia cenderung lebih takut kehilangan apa yang pernah didapatkannya ketimbang meraih apa yang menjadi impiannya. Nabiyullah Ibrahim AS, memberi keteladanan tingkat tinggi; mampu melewati jebakan rasa ketakutan kehilangan Ismail muda, ketimbang kebahagiaannya dulu saat mendapat bayi Ismail yang puluhan tahun dinantikannya.
Sang Khalilullah bukan tak menginginkan pasir “Ismail” dalam genggamannya, namun sang Nabi mengubah persepsi cara memegangnya. Menempatkan ‘pasir’ berupa Ismail pada tangan yang terbuka sebagai amanah yang bisa dinikmati dan dijaga tapi tak seutuhnya dimiliki. Hingga satu waktu, saat yang dicinta diminta kembali, bisa melepasnya dengan kerelaan. Ini sejalan dengan penelitian Positive Psychology bahwa kebahagiaan hakiki tidak datang dari menumpuk ‘materi’, namun ditilik dari kemampuan memberi dan melepaskan ego kepemilikan demi tujuan yang jauh lebih besar dan bermanfaat.
Setiap insan memiliki “Ismailnya” masing-masing—sesuatu yang dicintai. Proses penyembelihan kurban di tahunan Iduladha menyiratkan; ayunan mata pisau Nabiyullah Ibrahim AS ke leher Ismail, bukan fisik semata, karena nyatanya nabi Ibrahim AS tetap mendapatkan anaknya Ismail dalam wujud yang tak pernah hilang. Lebih jauh peristiwa merefleksikan penyembelihan sebagai prosesi pemutusan nafsu kepemilikan berlebih, yang kerap bersembunyi di setiap dada manusia.
Dan ketika takbir bergemuruh, saat hewan kurban sudah pasrah terebah, bertanyalah diri; wahai jiwa, berapa lama lagi diri akan tersiksa dalam menggenggam kelelahan ambisi akibat masih bercokolnya “Ismail” lain yang belum jua terputus?
#Narasiuntuksivilisasi