Seekor anak jerapah baru dilahirkan, ia terhempas dari ketinggian sekitar 2 meter. Belum lagi tuntas penderitaan, sang induk bergegas menendang anak jerapah yang masih gontai berdiri tak berdaya. Sepintas tampak perlakuan kasar di luar kelaziman. Tapi itulah hidup. Sang induk bukan tak sayang, bukan tak cinta. Mengandung anak jerapah adalah proses terlama di kalangan mamalia, hampir 15 bulan lamanya. Alangkah naif jika itu dilakukan sebagai tanda kebencian, apalagi induk jerapah hanya bisa melahirkan satu anak di setiap periode kehamilannya. Induk jerapah tentu lebih paham. Kehidupan ke depan akan lebih kejam. Apalagi anak jerapah sasaran empuk predator buas di belantara. Asbabnya…
-
-
Ada lelah tersimpan dalam diam. Ada ‘luka’ yang tertahan dalam ketegaran. Keperkasaan laksana simbol pengekang emosi, padahal nun jauh di dasar hati banyak rasa yang hendak diungkap. Lisan membisu tapi hasrat menggebu, inginnya ayah mendekap seraya berucap “aku mencintaimu nak”. Tapi ego menyela hingga lidah kelu kembali. “Ayah cinta pertama bagi anak perempuannya dan pahlawan bagi anak lelakinya.” Mungkin kalimat tersebut menggelitik buat para ayah, apa kaitannya? Memang tak kasat mata, karena spirit tak nyata tapi bisa dirasa. Bahkan efeknya terus menyala terngiang dalam bilangan usia. Meminjam simpulan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Studi Fenomenologis, dampak fatherless dapat mempengaruhi perkembangan…
-
Kesedihan mana lagi yang bisa dilukiskan saat menyaksikan kekasih tiada dalam kebiadaban? Jasad tak hanya terbujur kaku dengan mata tombak menghujam, namun tubuh jua koyak dan jantung dilumat seseorang. Apa rasanya jiwa, ketika pelaku kekejian datang menghampir memohon maaf? Sementara bayangan tragis kengerian kejahatan masih melekat dan menari dalam ingatan. Tak terbayang, seandainya Wahsyi bin Harb dan Hindun binti Utbah RA bukan hidup di zaman penuh berkah. Tak terpikir sekiranya keduanya menganiaya seseorang bukan pada kekasih manusia berhati mulia. Mungkin selamanya tak ada kata maaf dan pertaubatan ibarat jauh panggang dari api. Kebaikan-kebaikan mereka tak akan pernah dikenang, dan sejarah…
-
Wanita mulia itu menjawab gamang, rasa malu jauh mengungguli keinginannya. Maksud hati ingin meminta bantuan pelayan pada sang ayah, apa daya lidah kelu untuk mengungkap, akhirnya hanya terlontar : “Tidak ada urusan yang kuingini ayah, aku hanya menyampaikan salam atasmu.” Meski sang suami sudah berupaya turut serta membantu pekerjaan rumahnya, seakan kelelahan tak mau berkesudahaan. Beban fisik seolah telah melampaui batas kemampuan dirinya. Hingga di hari berikutnya ia kuatkan tekad kembali menjumpai sang ayah, dan kali ini sang suami menyertai. Dari Ali r.a., ia berkata, Fatimah telah mengadu kepadaku tentang kedua tangannya yang lelah membuat adonan dari tepung gandum. Lalu…
-
“Ayah, aku menangis karena batu penggiling ini, dan aku menangisi kesibukanku yang silih berganti. Ayah tolong sampaikan pada suamiku, Ali bin Abi Thalib RA agar ia mencarikan seseorang yang membantu pekerjaanku.” Fatimah mencurahkan gundah hatinya, ketika sang ayah bertanya apa gerangan yang membuatnya ia bersedih. Sang ayah, Rasulullah ﷺ baru saja berkunjung ke rumah syahidah Fatimah Az Zahra dan mendapatinya tengah menangis di dekat penggilingan batu. Rasulullah ﷺ terdiam, lantas beranjak menuju batu gilingan. Tak berapa lama sang Nabi ﷺ melemparkan segenggam biji gandum sambil mengucap bismillah, maka berputarlah batu menggiling biji-bijian gandum sampai beliau ﷺ menitahnya berhenti. “Fatimah, bila…
-
Louis Braille, lelaki yang hampir berputus asa akibat bola matanya tertusuk saat bermain dengan pelana dan perlengkapan kuda. Luka di matanya kian parah, infeksi tak terkendali menyebabkan dirinya mengalami kebutaan total. Sempat frustasi, tapi Braille tak mati langkah. Ia mulai beradaptasi ulang pada dirinya. Menelusuri setiap perangkat hidup yang diberi. Ia mempertajam telinga dan indera perasa yang masih normal, memaksimalkan setiap potensinya, hingga Braille berhasil mengembangkan unsur rasa, sentuhan tangan dan pendengarannya pada benda- benda timbul untuk kemudian dijadikan standar sebagai ‘ huruf Braille ‘ yang sangat berguna dalam membuka pengetahuan bagi para tunanetra. Seiring berjalannya waktu, banyak diantara kita…
-
Kebanyakan kita seolah takut dicela, hanya karena tak sama. Kita jadi enggan melawan arus, itu sebab pendapat dirangkai sejurus. Daripada terabai dalam sosialita, lebih baik ikut walau jiwa tak bahagia. Kita seperti ingin terlihat seirama, tapi lupa sejatinya diri tak sama. Sewarna tak selamanya menawan, terkadang membuat pegal penglihatan. Terlebih bila bersama diminta melabrak norma yang sudah menjadi aturan dalam berpolah. Satu kejadian kecil jika pelakunya banyak pada akhirnya bisa menormalisasi perbuatan. Apalagi di dunia dimana netizen menjadi “wasit” melalui _like and comment_-nya. Segalanya ditakar dari rating, tidak lagi dilihat sejauh mana kelayakannya. “Menyesuaikan keadaan” dalih yang terkesan bijak di…
-
Boleh jadi semesta jemu, acapkali menjadi saksi atas kefasikannya. Seorang pemuda dengan siklus hidup teramat nista. Pagi menenggak khamar, hingga berbuntut pada cela yang lain; mengacau dan membegal. Malam jua kian beku. Atas ulah sang pemuda tak kenal malu. Menghampiri rumah lacur di penghujung waktu, hingga tak berbilang kubangan dosa yang terus direka. Sampai suatu waktu, ia terjebak cinta pada pandangan pertama. Khayalan terus menari dalam benak, bermimpi mendapat wanita pujaan. Berjalan ia, menyusuri pelosok desa, demi mencari berita seputar wanita pemikat hati. Tekad kuat membuahkan hasil, sang pemuda berhasil mendatangi kediaman sang wanita. Diutarakan maksud bertemu, dengan kejujuran sang…
-
Tak daya, sekeras apapun usaha melindungi sang jungjungan, lelaki berkulit kecoklatan itu tetap kewalahan. Tubuhnya kian ringkih, ia jadikan tameng agar sang Nabi saw. tak terluka. Tak ayal, kepala Zaid bin Haritsah r.a. pun babak belur, berdarah-darah! Siapa sangka kehadiran keduanya di tanah Tha’if mendapat perlakuan teramat kasar. Para pemuka Tsaqif di kota Tha’if menitah orang-orang jahat dan para sahaya mengusir lelaki mulia dan sahabatnya dengan menghujani batu dan cacian menyayat kalbu. Kedua tumit Rasulullah pun cedera, rembesan darah membasahi terompahnya. Tertatih sang Nabi menjauh pergi, diiringi Zaid yang tetap setia menjadi tabir pelindung. Suatu waktu syahidah Aisyah r.a. pernah…
-
(Sebuah Refleksi Perjalanan Hijrah Nabi saw.) Sepintas melihat iringan semut menyusuri lantai menuju satu tempat adalah hal biasa. Koloni jenis serangga ini seolah kumpulan makhluk yang homogen; tak berbeda bentuk antara satu dan lainnya. Tapi, tahukah engkau? Ketika diperhatikan lebih seksama, dari puluhan bahkan ratusan semut yang ada sebenarnya adalah koloni heterogen. Fenomena memukau akan didapati tatkala penghalang kecil ditaruh untuk memutus rute perjalanan para semut. Dari seribu semut dalam koloni, hanya sekitar enam yang akan bertugas menyingkirkan halangan tersebut. Dan itu dilakukan dengan cepat, tidak pakai ribut-ribut, demikian pakar perilaku dari Universitas Konstanz Jerman, Dr. Christoph Kleineidam mengatakan. Perilaku…