
Kesedihan mana lagi yang bisa dilukiskan saat menyaksikan kekasih tiada dalam kebiadaban? Jasad tak hanya terbujur kaku dengan mata tombak menghujam, namun tubuh jua koyak dan jantung dilumat seseorang.
Apa rasanya jiwa, ketika pelaku kekejian datang menghampir memohon maaf? Sementara bayangan tragis kengerian kejahatan masih melekat dan menari dalam ingatan.
Tak terbayang, seandainya Wahsyi bin Harb dan Hindun binti Utbah RA bukan hidup di zaman penuh berkah. Tak terpikir sekiranya keduanya menganiaya seseorang bukan pada kekasih manusia berhati mulia. Mungkin selamanya tak ada kata maaf dan pertaubatan ibarat jauh panggang dari api. Kebaikan-kebaikan mereka tak akan pernah dikenang, dan sejarah pun boleh jadi luput menoreh keduanya masuk ke jajaran orang-orang yang baik.
Kita memang sangat jauh dari perilaku Nabi, tapi Rasulullah hadir sebagai acauan dalam berpolah. Kisah Wahsy dan Hindun yang bersekutu membunuh sahabat sekaligus pamannya, Hamzah RA memberi pelajaran berharga tentang sebuah ‘labelisasi’ seseorang.
Tak dipungkiri, perlakuan orang terhadap lainnya condong pada prasangkaan. Diri akan bersikap sesuai dengan ‘kesan’ yang telah dibentuk dari pikiran tentang orang tersebut.
Rasanya mustahil berharap mendapati anak-anak yang bertutur sopan, sementara kesehariannya dijejali berbagai cacian dan kata-kata kotor dari lingkungannya. Otak pasti mengeluarkan apa yang pernah diinput ke dalamnya.
Begitu pula dengan persepsi, kecenderungan menilai orang lain didasarkan pada asumsi yang dibangun sekitar. Akibat sering berseliweran, praduga itu memaksa masuk ke dalam pikiran hingga mau tak mau ingatan terjebak pada ruang ketidakobjektifan. Tak masalah jika yang terbentuk adalah prasangka baik. Tapi nyatanya orang lebih sensitif pada hal buruk yang menyiratkan aura negatif, penuh kekurangan.
Jahatnya memang lisan, di era kekinian bisa juga menjelma berupa konten atau tulisan. Keasyikan bergunjing, mencemooh atau sekedar mendengarkan, lambat laun akan mengubah persepsi seseorang sesuai dengan hasil ‘obrolan ghibahan‘ walaupun fakta belum terlihat. Ironi realita menyebut, seseorang yang mengetahui orang lain dari berita yang didapat, saat bertemu orang tersebut akan bersikap sesuai dengan apa yang pernah didengarnya.
Lalu apa yang terjadi pada hamba yang ditelanjangi kesalahannya? Mau benar atau tidak, pasti mentalnya jatuh. Seumpama itu adalah aibnya, maka diri akan sibuk menutupi ketimbang banyak menyesali. Diri juga sulit bangkit untuk melakukan perbaikan, apalagi bila ‘kesalahannya’ dilabeli terus-menerus seolah sudah melekat tak bisa dilepas.
Kenapa kebanyakan anak yang disebut ‘nakal’ pada akhirnya nakal sungguhan? Karena otak mensugesti diri sesuai inputan lingkungan yang menjustifikasi ‘ia anak nakal’, maka ia pun berpikir bahwa ia nakal. Padahal boleh jadi awal ‘kenakalan’ berupa hal biasa yang anak-anak lakukan, memang perlu arahan untuk perbaikan, bukan pelabelan. Sayang lingkungan terlanjur mencap dirinya nakal, sehingga penyebutan nakalnya menjadi semacam ‘doa’ yang akhirnya membuatnya nakal.
Kembali pada kisah Wahsy dan Hindun RA, sang Nabi tak merujuk perilaku keduanya bagian yang melekat pada diri (pribadi). Tetapi lebih pada polah yang masih punya celah untuk bisa berubah. Karena ruang kemungkinan orang menjadi baik selalu ada, meski itu di detik-detik terakhir dalam kehidupannya. Memberi kesempatan dengan memaafkan dan menjaga aib keduanya dengan tidak menyebut-nyebut, apalagi menjadikan stigma adalah satu kebaikan, walaupun konsekuensi perilaku kejahatannya tetap disikapi:“Kumaafkan engkau namun jauhkanlah wajahmu dariku Wahsy.” Sang Nabi pernah berkata.
Itu kepada Washyi dan Hindun RA, yang tindakannya menyakitkan dan disaksikan langsung oleh sang Nabi, bukan hasil mendengar apalagi prasangka dari asumsi. Bagaimana dengan kita? Menyikapi kesalahan orang-orang terdekat yang boleh jadi kekhilafannya masih di ranah permakluman. Hanya gegara hati sedang tak nyaman, maka diterima sebagai sesuatu yang nyelekit, dan kesalnya tak kunjung pergi dari lubuk hati.
Miris lagi saat melabeli seseorang hasil dari ikut-ikutan, sumber ‘katanya’. Diri terlanjur berpandangan miring tanpa menilik keadaan sebenarnya. Iya, nanti bisa diklarifikasi dan minta maaf bila keliru, bukan? Hati berkilah. Benar bisa, tapi paku yang tertancap di kayu, saat dicabut masih meninggalkan lubangnya juga bukan?
Mengertilah kini kenapa Islam melarang mentakfiri seseorang selama hidupnya. Labelisasi lebih pada membentuk stigma permanen, padahal hati tiada yang tahu. Orang akan tetap sama tapi perilaku bisa berubah, mungkin hari ini ia tercela esok lusa boleh jadi mulia.