”Tahukah engkau siapa aku?!”
Dengan wajah merah padam, Gubernur Khurasan di masa Kekhalifahan Umayyah itu merasa harga dirinya diinjak-injak. Ia tak terima saat seorang ulama menegur perilaku tinggi hatinya.
”Tentu aku tahu persis siapa dirimu,” jawab sang ulama, Mutarrif bin Abdullah, tenang namun menghujam. “Awalmu adalah air mani yang menjijikkan dan akhirmu menjadi bangkai yang dikebumikan. Dan di antara kedua masa itu, engkau ke mana-mana membawa kotoran dalam perutmu.”
Meruntuhlah seluruh keangkuhannya sang Gubernur hingga egonya menyingkir dalam kesadaran sepenuh jiwanya.
Benar adanya, karat tak selalu langsung mematahkan tiang besi. Namun ia berawal dari bintik kecil akibat lembap yang dibiarkan hingga keropos memakan kekuatan tiang untuk tetap tegak berdiri.
Begitu pula kemegahan bangunan, jika tak lihai memelihara tinggal menunggu waktu kerobohannya akibat bercokolnya rayap disela-sela kayu pancangnya.
Sama hal kesombongan yang mengendap di hati. Setitik benihnya mampu memberangus kebaikan, selayak api yang menelan kayu bakar. Ia bagai racun senyap, yang menyusup di kalbu tatkala mulai merasa memiliki kelebihan ilmu, amal dan kedudukan dibanding sesama.
Sombong sama arti menolak kebenaran. Sebuah delusi akut yang secara psikologis bagian dari gangguan kesehatan mental di mana seseorang memutus hubungan dengan realitas dirinya sendiri. Sering kali, keinginan untuk selalu merasa ‘lebih’ dari orang lain lahir dari jiwa yang tidak damai, yang kerap merasa tidak aman (insecure) dan berusaha menutupi kerapuhannya dengan cara merendahkan sesama.
Ini adalah mekanisme pertahanan ego yang keliru. Jiwa yang sehat secara mental akan merasa cukup (contentment) tanpa perlu validasi dari rasa superioritas. Namun jiwa yang sakit akan terus mendongakan kepala, merasa lebih shalih, berilmu, berharta, dan terhormat. Padahal semua adalah titipan yang dalam sekali kedipan mampu lenyap jika Sang Pemilik (Allah) memintanya kembali.
Sungguh tragedi menyedihkan bagi hamba, manakala mengira ia tengah meniti jalan menuju surga dengan amalanya, namun tanpa sadar langkahnya justru terseret mundur ke tempat yang paling nista. Mengertilah kini memelihara benih keangkuhan di dalam diri sejatinya kita tengah tertipu oleh ego sendiri, merasa sedang berdiri di puncak menara yang megah, padahal ia hanya sedang berdiri di atas tumpukan pasir yang rapuh dan siap runtuh kapan saja.
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)