Adalah hati, gejolak tak bisa ditebak. Kadang ia menghampir takwa, saat berikutnya menggandeng fahsya ( kekejian). Satu waktu meledak menjelma amarah, kala lain tenggelam dalam kedamaian yang pasrah. Dalam jiwa ada seonggok daging, apabila baik, maka baiklah tubuhnya, dan begitu pula sebaliknya– demikian Rasulullah pernah berkabar. Tak ada yang bisa menduga, kerentanannya untuk beralih suasana terjadi begitu cepat, apalagi dalam kondisi tak terjaga. Iman al Ghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulumuddin menyebut, qolb/ hati bukan hanya organ tubuh, melainkan esensi emosi dan ingatan. Karenanya beliau berpendapat jika penyakit kalbu disembuhkan akan menambah ilmu intuisi spiritual. Teringat kisah fantasi dalam serial Snow…
-
-
Siapa Engkau?Laku heroikmu tak membiarkan jiwa lumpuh dalam silau gemerlap, tetap sahaja tak terpikat buaian puja. Memilih menerobos celah sempit pertahanan kubu lawan di kala yang lain telah kehilangan daya dan tersungkur keraguan Siapa Engkau?Berjubah zirah tanpa wajah. Memilih kejernihan di tengah buramnya niat, tetap nyata di antara tatapan nanar. Sosokmu menyisakan tanya di setiap benak yang takjub, tak terkecuali bagi sang panglima, Maslamah bin Abdul Malik. Usai genderang perang reda, sang panglima menitah prajurit misterius itu untuk menghadap. Tak lama, muncul seorang lelaki meminta bertemu. Ia mengaku tahu siapa kesatria di balik zirah tersebut, namun ia mengutarakan prasyarat yang…
-
Hidup tidak sekadar tentang ‘aku’ melainkan ada ‘kita’. Konsep ‘kita’ menuntut ‘aku’ bukan lagi sebagai pusat semesta. Menjadi soal untuk memahami orang lain bukan hanya pada tataran logika, tapi bagaimana kerelaan hati untuk bisa berlapang dada, menekan ego dan berhenti pada prasangka tak baik. Menjalin hubungan, baik dalam wujud organisasi, pertemanan, keluarga, suami-istri maupun relasi lain acapkali dinamikanya menyulut api konflik; mulai dari rasa tak nyaman sampai berujung perselisihan. Konflik terjadi karena adanya dua atau lebih pandangan, kepentingan, dan kebutuhan yang tidak selaras. Pada satu titik, konflik bisa terjebak ajang adu beban; merasa paling berjasa dan berkepentingan. Seolah hanya diri…
-
Wanita Bani Junainah itu tertunduk lesu. Raut wajahnya menyiratkan keresahan mendalam dan menyiksa. Tatapannya jua ragu; antara malu, jijik, bingung dan takut atas aib besar yang telah diperbuat. “Ya Rasulullah aku telah berzina, tegakanlah hukuman pada diriku.” Tutur wanita Bani Junainah. Sang Nabi SAW hanya terdiam. “Ya Rasulullah sungguh aku telah berzina dan aku tengah mengandung janin dari perzinahanku!” Wanita Bani Junainah mempertegas pengaduannya. “Pulanglah dan lahirkan anakmu.” Titah Rasulullah seraya berpesan kepada wali wanita tersebut untuk turut menjaganya sampai masa persalinan. Waktu melahirkan telah usai. Bilangan bulan tak menyurutkan tekad wanita Bani Junainah untuk membersihkan diri. Ia bergegas menghadap…
-
Adalah waktu, tiap detiknya berpacu tanpa peduli. Terus melaju meninggalkan kesan dalam kenangan. Rasanya baru sekejap pagi menyapa, di ujung kelam sudah menunggu. Kehidupan terus bergulir mengikuti irama keadaan yang tak bisa diprediksi alur ceritanya dari sudut pandang manusia. Adakala kesenangan menghampiri, tapi tak menutup kesedihan datang merundung. Satu hari boleh jadi diri berada pada puncak cahaya, esok lusa meredup di titik nestapa. Itulah hidup, suka-duka akan selalu ada membersamai manusia seiring melajunya usia. Penulis buku Filosofi Teras, Henry Manampiring, pernah mengutip “Survei Khawatir Nasional” di tahun 2017. Simpulan hasilnya cukup mencengangkan: sebanyak 63% dari 3.634 responden merasa lumayan khawatir…
-
Wanita itu membagi 3 butir kurma pemberian bunda Aisyah RA kepada kedua putrinya, satu tersisa untuk ia santap. Belum lagi sempat memakan, sang ibu gamang melihat tatapan kedua anaknya. Ia mengerti, pandangan menyiratkan rasa lapar yang belum tuntas. Seketika iba menyelinap membangkit naluri keibuan, ia membelah kurma miliknya dan memberikan kembali kepada kedua putrinya, walau ia sendiri menahan perihnya lapar. Bunda Aisyah tertegun menyaksikan ketulusan wanita sederhana yang menghampiri rumahnya. Ada gores haru tersimpan dalam kalbu. Tapi apa daya hanya 3 butir kurma yang bisa ia beri. Tak kuasa bunda Aisyah memendam rasa, cerita tertumpah tatkala Rasulullah berada di sisi.…
-
Bintang bersinar kala malam tiba. Ia tak takut sinarnya tak berguna. Bintang percaya, gulita adalah waktu yang tepat untuk berpijar, karena nilainya meninggi meski redup yang diberi. Mentari tak pongah, berdiri gagah berenergi kuat berdaya. Ia tak cemas tenggelam saat senja merambah kelam. Mentari percaya esok akan kembali terang atas ketentuan Tuhannya. Bunda Musa AS juga serupa, berteguh hati melarungkan bayinya di sungai terpanjang di jagat semesta. Ia tak mengerti takdir apa kelak yang menimpa Musa kecilnya. Gundah menghantui, tapi bunda Musa percaya, titah Tuhan-nya tak pernah mendzalimi. Seringnya banyak orang terlupa, menganggap Allah membiarkan manusia hidup tanpa campur tangan-Nya.…
-
Seekor anak jerapah baru dilahirkan, ia terhempas dari ketinggian sekitar 2 meter. Belum lagi tuntas penderitaan, sang induk bergegas menendang anak jerapah yang masih gontai berdiri tak berdaya. Sepintas tampak perlakuan kasar di luar kelaziman. Tapi itulah hidup. Sang induk bukan tak sayang, bukan tak cinta. Mengandung anak jerapah adalah proses terlama di kalangan mamalia, hampir 15 bulan lamanya. Alangkah naif jika itu dilakukan sebagai tanda kebencian, apalagi induk jerapah hanya bisa melahirkan satu anak di setiap periode kehamilannya. Induk jerapah tentu lebih paham. Kehidupan ke depan akan lebih kejam. Apalagi anak jerapah sasaran empuk predator buas di belantara. Asbabnya…
-
Kesedihan mana lagi yang bisa dilukiskan saat menyaksikan kekasih tiada dalam kebiadaban? Jasad tak hanya terbujur kaku dengan mata tombak menghujam, namun tubuh jua koyak dan jantung dilumat seseorang. Apa rasanya jiwa, ketika pelaku kekejian datang menghampir memohon maaf? Sementara bayangan tragis kengerian kejahatan masih melekat dan menari dalam ingatan. Tak terbayang, seandainya Wahsyi bin Harb dan Hindun binti Utbah RA bukan hidup di zaman penuh berkah. Tak terpikir sekiranya keduanya menganiaya seseorang bukan pada kekasih manusia berhati mulia. Mungkin selamanya tak ada kata maaf dan pertaubatan ibarat jauh panggang dari api. Kebaikan-kebaikan mereka tak akan pernah dikenang, dan sejarah…
-
“Ayah, aku menangis karena batu penggiling ini, dan aku menangisi kesibukanku yang silih berganti. Ayah tolong sampaikan pada suamiku, Ali bin Abi Thalib RA agar ia mencarikan seseorang yang membantu pekerjaanku.” Fatimah mencurahkan gundah hatinya, ketika sang ayah bertanya apa gerangan yang membuatnya ia bersedih. Sang ayah, Rasulullah ﷺ baru saja berkunjung ke rumah syahidah Fatimah Az Zahra dan mendapatinya tengah menangis di dekat penggilingan batu. Rasulullah ﷺ terdiam, lantas beranjak menuju batu gilingan. Tak berapa lama sang Nabi ﷺ melemparkan segenggam biji gandum sambil mengucap bismillah, maka berputarlah batu menggiling biji-bijian gandum sampai beliau ﷺ menitahnya berhenti. “Fatimah, bila…