Tak Berkategori

Bukan Gajah Sirkus

0
(0)

Bayangkan seekor gajah sirkus. Ia memiliki kekuatan untuk meruntuhkan tembok dan melangkah bebas dari arena pertunjukan. Apalagi sang gajah hanya ditambat pada seutas tali di pasak yang rapuh. Ironisnya sang gajah memilih diam dan menurut. Bukan karena tali terlalu kuat, tetapi karena sejak kecil ia terbiasa dengan ilusi tali yang memperdaya.

Proses pelumpuhan mental dimulai saat gajah masih kecil. Anak gajah dikondisikan dengan rantai besi berat agar terpaku di posisinya. Kondisioning mental berhasil hingga kelak gajah dewasa. Memorinya masih menetap, terbelenggu pada ketidakmampuan untuk melepaskan tali yang diasosiasikan sebagai rantai berat. Padahal kekuatannya kini bertumbuh; ada dan besar.

Sering kali, kita adalah gajah itu; membawa-bawa ‘tali’ keraguan di dalam benak. Tanpa sadar melegitimasinya sebagai sebuah kelemahan inheren. Kita merangkai asumsi yang belum tentu kebenarannya. Namun tetap saja bayangan ketakutan kerap menahan langkah diri. Mirisnya lagi, kita merasa nyaman pada kondisi tersebut—terjebak dalam narasi korban nasib. Menyalahkan trauma pengasuhan masa kecil, lingkungan dan orang lain atas ketidakmampuan hari ini.

Memang masa lalu turut andil menorehkan gurat pada batin kecil, namun itu bukan sesuatu yang mutlak dan tak bisa dilepas. Bukankah pepatah menyebut: Bukan salah bunda mengandung? Dan kita manusia, bukan gajah. Pilihan untuk bertransformasi lebih baik atau diam dalam kenyamanan membinasakan, berpulang pada diri sendiri.

Berhenti mencari permakluman atas ketidakberdayaan diri, karena kita bukan “produk takdir yang gagal” selama tidak membiarkan diri terjajah oleh ‘seutas tali’ yang telah lama putus. Bukankah konsep baligh dalam Islam memberi ruang luas akan tanggung jawab individu terhadap masa depannya untuk tidak lagi bergantung pada orang lain secara penuh? Apalagi menyudutkan keadaan dan masa lampau.

Lantas apa yang bisa dimulai untuk membebaskan tali belenggu di pikiran yang semu itu?

1.Audit Diri
Tanyakan pada diri; tugas atau kegiatan apa yang ketika saya melakukannya berada dalam flow state—kondisi dimana setelah usai, justru energi meluap bukan lagi kelelahan atau kejenuhan yang didapat.

2.Validasi
Jangan meremehkan tugas atau kegiatan yang kita anggap “mudah”. Sering kali, kemudahan yang kita miliki adalah keahlian unik yang boleh jadi sebuah kesulitan bagi orang lain.

Ketika telah menemukan celah keunggulan diri yang tertutupi selama ini, selanjutnya mulailah bergerak. Tak harus tergesa, kestabilan jauh lebih mengesankan. Seperti air di sungai, mampu membelah bebatuan bukan karena hantaman kekuatannya, melainkan karena air sungai gigih memberdayakan kekuatannya.

Teori efikasi diri–Albert Bandura menyimpulkan kepercayaan diri lahir dari keberhasilan kecil yang diwujudkan dengan tindakan. Menariknya, teori ini selaras dengan istiqamah, konsep spiritual yang digagas Islam terlebih dahulu. Sesuai yang Rasulullah saw. ajarkan bahwa amalan kecil yang konsisten adalah yang paling dicintai, oleh karenanya dalam konteks memutus belenggu diri bukan menyoal lompatan besar, melainkan tentang meregulasi diri dengan istiqamah sebagai kunci. Dari langkah kecil yang terjaga inilah perlahan akan meruntuhkan tembok ketakutan, dan akhirnya membawa pada momentum keberhasilan sesungguhnya.

Maka, hargai dirimu, lejitkan potensi yang bisa digali. Apalagi jika hidup sudah dinisbatkan di jalur kebenaran, dimana setiap upaya bukan lagi sekadar kebermanfaatan duniawi, melainkan berpeluang emas menjadi investasi terbaik di keabadian jika dinyawai dengan ketulusan.

#Narasiuntuksivilisasi

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.