Inspirasi

Mengeja Takdir

0
(0)

Bintang bersinar kala malam tiba. Ia tak takut sinarnya tak berguna. Bintang percaya, gulita adalah waktu yang tepat untuk berpijar, karena nilainya meninggi meski redup yang diberi.

Mentari tak pongah, berdiri gagah berenergi kuat berdaya. Ia tak cemas tenggelam saat senja merambah kelam. Mentari percaya esok akan kembali terang atas ketentuan Tuhannya.

Bunda Musa AS juga serupa, berteguh hati melarungkan bayinya di sungai terpanjang di jagat semesta. Ia tak mengerti takdir apa kelak yang menimpa Musa kecilnya. Gundah menghantui, tapi bunda Musa percaya, titah Tuhan-nya tak pernah mendzalimi.

Seringnya banyak orang terlupa, menganggap Allah membiarkan manusia hidup tanpa campur tangan-Nya. Padahal skema Allah jauh mendahului rencana manusia sebelum ia sempat memikirkannya.

Tak ada sehelai daunpun yang jatuh tanpa sepengtahuan-Nya. Apalagi tentangmu, manusia. Berlabel kemuliaan dengan kesempurnaan, mustahil Allah abai. Engkau saja yang terkadang skeptis, sebab apa yang menimpamu tak sesuai harapmu. Engkau merasa Allah tak berpihak, karena jalanmu terlalu terjal dan berkelok. Engkau juga mengira kesempitan hidup menimpa, karena ketiadaan cinta-Nya padamu.

Jangan tergesa berprasangka, di saat Allah tak mengabul setiap pinta. Allah tengah memilah untuk memberi yang terbaik buatmu. Engkau hanya diminta percaya, meski yang datang kemudian ketidaknyamanan dalam hidupmu.

Jangan bergurau atas takdir-Nya, karena Allah menetapkannya dengan kesungguhan. Jangan pula menjalani dengan setengah hati, karena itu bagianmu yang meminta dipenuhi setiap syaratnya bersama ikhtiar dan kesabaran.

Kelak, engkau akan mengerti, dirimu hari ini adalah rangkaian harap yang kau susun belasan waktu silam, meski ceritanya tak sesuai dengan alur yang kau mau.

Engkau juga akan menyadari, hidupmu kini adalah kebaikan yang Allah siapkan bagimu secara tersirat, meski yang tersurat pada harimu dalam wujud tak menyenangkan.

Sayyid Abdullah al-Murghini berkata, “Beriman dengan qadar adalah membenarkan bahwa segala sesuatu yang telah wujud dan yang akan wujud adalah sesuai dengan takdir Allah yang berkata kepada segala sesuatu, ‘Jadilah!’ Maka sesuatu itu jadi, baik atau buruk, bermanfaat atau berbahaya, manis atau pahit.” (ulama kontemporer)

Takdir, ruang ketidakmengertian dalam bahasa manusia. Menerkanya pada prasangka diri hanya menyulut hadirnya luka. Seperti hujan ketika datang menerpa, bisa bermakna susah bagimu, tapi nyatanya ia memberkahi.

Menyelami takdir bersama kosakata Tuhan jauh lebih mendamaikan. Ada titik balik memahaminya bahwa bukan dari takdirnya yang berat tapi keluhmu terkadang berlebih dan memuncak. Efeknya memudarkan rasa syukur; meniadakan yang ada berfokus pada yang tiada.

Mengeja takdir dalam bait peristiwa akan merasai ranumnya buah ketegaran di atas kesukaran yang dilalui. Hikmah akan mengungkap segalanya adalah kebaikan. Sejatinya hanya soal waktu, karena janji-Nya selalu benar dan tak pernah usang:
Bersama kesulitan menyertai kemudahan” [merujuk Qs. Al. Insyirah:5-6]

#Narasiuntuksivilisasi

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.