Adalah hati, gejolak tak bisa ditebak. Kadang ia menghampir takwa, saat berikutnya menggandeng fahsya ( kekejian). Satu waktu meledak menjelma amarah, kala lain tenggelam dalam kedamaian yang pasrah.
Dalam jiwa ada seonggok daging, apabila baik, maka baiklah tubuhnya, dan begitu pula sebaliknya– demikian Rasulullah pernah berkabar. Tak ada yang bisa menduga, kerentanannya untuk beralih suasana terjadi begitu cepat, apalagi dalam kondisi tak terjaga.
Iman al Ghazali dalam bukunya Ihya ‘Ulumuddin menyebut, qolb/ hati bukan hanya organ tubuh, melainkan esensi emosi dan ingatan. Karenanya beliau berpendapat jika penyakit kalbu disembuhkan akan menambah ilmu intuisi spiritual.
Teringat kisah fantasi dalam serial Snow White and the Seven Dwarfs : Cermin di dinding yang kerap disapa Ratu Jahat, pemiliknya. Sang Ratu tak pernah bosan mengkonfirmasi siapa wanita tercantik di jagad semesta. Dan nyatanya cermin tak selalu berkabar sesuai apa mau tuannya, ia tetap berteguh menyebut Putri Salju yang tercantik.
Benar kisah itu fiktif adanya, namun jika seumpama hati adalah cermin, ia akan sama merefleksi apa yang tersembunyi menjadi sebuah keniscayaan. Soal kejernihan misalnya. Akurasi pantulan pada cermin tergantung pada seberapa bersih permukaannya terbebas dari debu yang menutupi.
Demikian dengan hati, kebenaran dan kebijaksanaannya muncul bila ia bersih. Kejernihan melihat situasi dengan objektif tanpa prasangka akan tampak terang menderang. Sebaliknya jika hati tertutup ego, kebencian dan keserakahan, pantulan realitas menjadi buram adanya. Hati sulit memandang sesuatu sebagai apa adanya melainkan berpaku pada persepsi ‘debu’ yang mengotorinya.
Apa yang tersimpan di ke dalaman batin, akan tampil pada penampilan lahir ( ibnu Athaillah As-Sakandari)
Ramadhan datang, energinya sedemikian kuat menyorot. Memecut jiwa lemah kembali pada fitrah diri. Memaksa raga berdiri lebih lama dalam panjangnya sholat-sholat malam, dan menekan amarah dalam ritme lapar yang tertata.
Ramadhan memanggil fitrah. Merekatkan hati pada singgasana Keagungan-Nya. Mengembalikan ingatan bahwa diri terikat benang merah Khalik-Hamba dalam janji pengakuan di alam rahim “Ya, Engkau adalah Tuhan kami.”
Kelembutan Ramadhan menyentuh hati yang keras untuk melunak. Kembali menghamba dalam tunduk kerelaan ataupun ‘keterpaksaan’, karena Ramadhan hadir sebagai cara Allah memanggil fitrah, untuk kembali pada kelurusan jalan.
Dan, Ramadhan telah pergi lagi, menyisa tanya: Akankah ‘proses’ bersama Ramadhan menguap bagai gumpalan asap yang lambat laun lenyap dalam pandangan? Atau akankah yang telah tergenggam kembali terurai selayak wanita penenun yang diabadikan dalam Al-Quran?
“…Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” [ Qs. An Nahl: 92]
Tidak, Ramadhan bukan sekadar khatammu dalam lembaran Kitab Suci. Bukan pula letihmu dalam lamanya rakaat malammu. Tapi Ramadhan mengajakmu berkomitmen; tetap berjalan dalam fitrah, jujur mengikuti mata batin dan terus merawat kebersihan hatimu meski ia kini berlalu. Bukankah Sang Pemilik Ramadhan terus ada membersamai, di bulan-bulan selainnya? Maka kenapa engkau hanya mendekatnya saat Ramadhan sementara setelahnya kau acuh?
Tidak, Ramadhan bulan agung, tetapi kebesarannya tak hanya memukau di hari hadirnya. Hembusnya akan terus menerpa jiwa di hari-hari berikutnya, dengan keanggunan hati yang lebih memesona. Seperti cermin yang terawat dari kotoran, ia akan melihat segalanya dalam kejujuran, kejernihan dan kebijaksanaan.
Maka, jika setelah ini hatimu kembali buram dan langkahmu kembali acuh, tanyakanlah pada jiwa: benarkah ia baru saja menemui Sang Khalik, atau sekadar ikut serta dalam sandiwara tahunan yang melelahkan?