Siapa Engkau?
Laku heroikmu tak membiarkan jiwa lumpuh dalam silau gemerlap, tetap sahaja tak terpikat buaian puja. Memilih menerobos celah sempit pertahanan kubu lawan di kala yang lain telah kehilangan daya dan tersungkur keraguan
Siapa Engkau?
Berjubah zirah tanpa wajah. Memilih kejernihan di tengah buramnya niat, tetap nyata di antara tatapan nanar. Sosokmu menyisakan tanya di setiap benak yang takjub, tak terkecuali bagi sang panglima, Maslamah bin Abdul Malik.
Usai genderang perang reda, sang panglima menitah prajurit misterius itu untuk menghadap. Tak lama, muncul seorang lelaki meminta bertemu. Ia mengaku tahu siapa kesatria di balik zirah tersebut, namun ia mengutarakan prasyarat yang berat saat telah berhadapan berdua dengan panglima.
”Jangan tulis namanya di daftar prajurit untuk Khalifah, jangan perintahkan ia melakukan sesuatu (sebagai imbalan), dan jangan tanya dari kabilah mana ia berasal.”
Sang panglima setuju. Maka, mendekatlah lelaki tersebut dan berbisik pelan, “Akulah prajurit penembus lubang itu.”
Prajurit ‘tanpa wajah’ datang bagai angin; dirasakan sejuknya namun tak bisa digenggam. Sejak saat itu, sang panglima selalu berdoa: “Ya Allah, kumpulkanlah aku kelak bersama sang prajurit penembus lubang.”
Lelaki jubah zirah tanpa wajah menoreh makna, sering kali ketulusan sederhana luput dari genggaman, sementara keglamoran dalam beramal kerap menjadi simbol prestise yang dipuja-puji. Hati memang sulit dijinakkan; ia kerap bergejolak ingin tampil. Desakannya terus menyulut, baik saat amal baru dimulai maupun setelah lama berlalu.
Betapa banyak jiwa yang geram ketika namanya tak tercantum dalam daftar pembesar yang menyokong kerja-kerja besar? Berapa banyak yang menyembunyikan luka saat jerih payahnya tak berbalas apresiasi? Dan berapa banyak yang akhirnya memutus urat malu hanya karena dahaga untuk terlihat paling bersinar, padahal ia hanyalah lilin yang membakar dirinya sendiri demi pujian sesaat.
Hasrat untuk tampil ibarat penyakit kronis yang perlahan namun pasti membinasakan hati. Benihnya sangat halus—samar setipis tisu—hingga kita sulit menakar: mana yang memang perlu ditampakkan sebagai teladan, dan mana yang cukup dinikmati dalam kesunyian.
” Tiga perkara yang membinasakan: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thabrani)
Racun pujian lahir dari kekaguman berlebih atas peran diri. Mengharapkan timbal balik dari apa yang telah diberi, padahal itu sama hal seperti meminum air laut; semakin ditenggak, semakin mencekik kerongkongan, rasa hausnya tak pernah usai.
Meminjam istilah Rahmat Abdullah [semoga Allah merahmati beliau] dalam bukunya Untukmu Kader Dakwah, bahwa ketika seseorang berusaha keras untuk beramal tanpa berpikir apa keuntungan yang bakal didapatnya ia disebut mukhlis , artinya orang yang menyerahkan amalnya kepada Allah dengan sepenuh hati tanpa pamrih duniawi. Sementara pada saat dorongan beramal tanpa ingat apapun kecuali ridha Aĺlah, ia menjadi mukhlas, artinya orang yang dijadikan mukhlis.
Seperti Sa’id bin Al Mussayyab Rahimallah, seorang tabi’in besar yang pernah duduk khusyuk mendengarkan seorang budak mengajarinya suatu ilmu. Orang-orang tersentak kaget, mengapa sang samudra ilmu mau berlapang-lapang mengikuti majelis tersebut? ”Karena aku tahu, bahwa sesungguhnya Allah akan menaungi majelis-majelis seperti itu dengan rahmat-Nya, dan kaum yang duduk di dalamnya tidak akan celaka,” Jawabnya dengan kesahajaan yang meruntuhkan kesombongan.
Tertipu rasa ingin tampil adalah cara tercepat “membunuh” diri sendiri. Ia menebar racun di setiap aliran amal, menciptakan buaian mimpi indah seolah amal diterima di langit. Padahal nyatanya, amal itu hanyalah debu fatamorgana; terlihat besar dari kejauhan, namun lenyap seketika disapu angin riya.
#Narasiuntuksivilisasi
Referensi:
- Bin Abdullah al Qarni, Aidh, Obat Penyakit Hati, pustaka al kautsar, Jakarta, 1995
- Abdullah Rahmat, Untukmu Kader Dakwah, pustaka Da’watuna, Jakarta, 2004