Inspirasi

Berbeda Tapi Sama Berharga

0
(0)

Hidup tidak sekadar tentang ‘aku’ melainkan ada ‘kita’. Konsep ‘kita’ menuntut ‘aku’ bukan lagi sebagai pusat semesta. Menjadi soal untuk memahami orang lain bukan hanya pada tataran logika, tapi bagaimana kerelaan hati untuk bisa berlapang dada, menekan ego dan berhenti pada prasangka tak baik.

Menjalin hubungan, baik dalam wujud organisasi, pertemanan, keluarga, suami-istri maupun relasi lain acapkali dinamikanya menyulut api konflik; mulai dari rasa tak nyaman sampai berujung perselisihan. Konflik terjadi karena adanya dua atau lebih pandangan, kepentingan, dan kebutuhan yang tidak selaras.

Pada satu titik, konflik bisa terjebak ajang adu beban; merasa paling berjasa dan berkepentingan. Seolah hanya diri yang berpeluh dan berkorban, sementara yang lain berpangku tak peduli. Padahal boleh jadi orang lain sedang memikul beban yang jauh lebih berat pada saat yang sama, hanya saja tak kasat mata.

Ketika semua orang merasa ‘paling’ maka keretakan hubungan tak terelakan. Menoreh luka yang terkadang menyisakan guratan. Perihnya lagi bila ia menjelma dalam diam; tampak baik di permukaan tapi perlahan menjaga batasan, tampil setenang danau, namun menyimpan pusaran di kedalaman.

Belajar Menerima yang Tak Sama

Tak ada manusia sempurna, sebagaimana alam pun dicipta dalam keragaman. Allah juga tak serta merta memberikan sesuap nasi untuk disantap, melainkan menurunkan hujan agar benih padi yang ditanam bisa bertumbuh untuk diolah. Suatu isyarat, selalu ada bagian orang lain yang terlibat dalam setiap kepentingan. Tak bisa sepenuhnya berdiri sendiri, sesama ‘aku’ terhubung dalam rupa ‘kita’.

Perbedaan bukan ancaman, melainkan kepingan puzzle yang menanti untuk disatukan. Tak akan terlihat gambar yang utuh bila satu kepingan tak membersamai. Keindahan bukan saat bentuk dan warna terlihat sama, tetapi kesempurnaan justru hadir ketika ketidakaturan bentuknya saling melengkapi.

Setiap orang punya keunikan, keunggulan dan kepentingan dalam versinya sendiri. Belajar menerima perbedaan, akan melihat kekurangan bukan lagi sebagai alasan berselisih apalagi meninggalkan, tetapi menjadikannya kesempatan untuk saling belajar dan bertumbuh jauh lebih dewasa.

Belajar Mengolah Diksi

Nyatanya sebagian besar friksi berawal dari hal yang kecil. Berkembang besar saat disampaikan dengan diksi yang kurang tepat. Tentu kita menyadari kata-kata adalah pedang bermata dua, salah berucap atau keliru menempatkanya akan mendulang bumerang kesalahpahaman yang menghancurkan komunikasi. Apalagi di era pesan digital, dimana sering kali terjadi kata-kata gagal ditafsiri.

Belajar bijak mengolah kata menjadi kemestian. Melatih diri kapan harus berbicara dan bagaimana memilih kata, agar maksud hati sesuai dengan harapan dan pesan yang diterima tanpa melukai.

Tenang di Balik Riak

Pergesekan dalam interaksi sebuah keniscayaan. Keberagaman yang tak disikapi baik menjadi simpul pemicu gejolak. Jangan tergesa menghakimi apa yang tampak luaran, karena setiap orang punya pergulatan batinya masing-masing.

Harmonisasi dalam relasi tertuju pada kata saling, saling memperkecil ruang perbedaan dan meluaskan kesamaan. Menenggang perbedaan dengan melihat sisi kebaikan dalam porsi yang lebih besar daripada kekurangannya dan itu berawal dari selalu berprasangka baik.

Pada akhirnya, semua tentang bagaimana ‘aku’ meluluhkan ego ketika menjadi ‘kita’. Seperti warna-warni yang tak lagi menyoal tentang tidak sewarna saat menjelma sebagai lukisan. Meski goresannya hanya berupa abstrak, namun ketidakaturannya justru menampakan keindahan yang memesona.

#Narasiuntuksivilisasi

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.