Wanita Bani Junainah itu tertunduk lesu. Raut wajahnya menyiratkan keresahan mendalam dan menyiksa. Tatapannya jua ragu; antara malu, jijik, bingung dan takut atas aib besar yang telah diperbuat.
“Ya Rasulullah aku telah berzina, tegakanlah hukuman pada diriku.” Tutur wanita Bani Junainah. Sang Nabi SAW hanya terdiam.
“Ya Rasulullah sungguh aku telah berzina dan aku tengah mengandung janin dari perzinahanku!” Wanita Bani Junainah mempertegas pengaduannya.
“Pulanglah dan lahirkan anakmu.” Titah Rasulullah seraya berpesan kepada wali wanita tersebut untuk turut menjaganya sampai masa persalinan.
Waktu melahirkan telah usai. Bilangan bulan tak menyurutkan tekad wanita Bani Junainah untuk membersihkan diri. Ia bergegas menghadap Rasulullah SAW, menagih pemberian sanksi atas dirinya. Sang Nabi pun akhirnya menitah pelaksanaan hukuman rajam (dalam riyawat lain Rasulullah menunda hukuman sampai jabang bayi selesai masa persusuan).
Keputusan diterima sang wanita dengan kesabaran. Luka di sekujur tubuh bak penanda pertaubatan yang dilakukan penuh kesungguhan. Semesta pun terdiam, turut menyaksikan ruh wanita Bani Junainah terlepas dari jasad kembali ke haribaan.
Umar bin Khattab RA menjeda, saat sang Nabi SAW hendak menyolatkan. Sahabat mulia itu mendaulat, bahwa kesalahan sang wanita sudah termasuk dosa besar dan tak patut mendapat perlakuan secara layak. Namun sang Nabi menukas:
“Wahai Umar tahukah engkau, wanita yang kau cela, tengah bergembira dalam ampunan Tuhannya.” [Kisah dinukil dari HR Bukhari, yang diriwayatkan dari Anas bin Malik RA]
Dalam riwayat lain beliau SAW juga bersabda, “Wanita ini telah bertaubat dengan taubat yang seandainya taubatnya tersebut dibagi kepada 70 orang dari penduduk Madinah maka itu bisa mencukupi mereka. Apakah engkau dapati taubat yang lebih baik dari seseorang yang mengorbankan jiwanya karena Allah?” (HR Muslim)
Setiap insan pasti pernah berbuat salah, kecil atau besar, kecuali sang teladan Rasulullah SAW yang terpelihara. Tetapi fitrah kemanusiaan tak bisa mengelak, selalu terselip keinginan untuk kembali pada kelurusan jalan setelah berbuat salah. Benar, manusia tak selalu sama dalam merespon, tergantung sejauh mana keyakinan yang tertanam di dada.
Tapi satu hal yang pasti, kembali ke titik terang selalu ada jalan. Pintunya kerap terbuka, menunggu para penista datang mengetuk dengan kerendahan hati.
Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat keburukan di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat keburukan di malam hari bertaubat. (Ini akan terus berlaku) hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim)
Memang tak mudah, terkadang diri merasa tak pantas, malu dan putus asa. Kesalahan seolah terlalu hina untuk dimaafkan. Keraguan semakin menjadi manakala sekitar ikut menelisik, mengungkit dan menyematkan keburukan pada seseorang, meskipun ia telah berupaya membenahi diri.
Namun, tak usah berkecil hati, ketika tekad sudah terpatri. Janji Tuhan selalu pasti, mengampuni orang bertaubat dengan memberinya derajat tiinggi. Tak perlu memikirkan pandangan orang lain, karena orang akan selalu menilai dirimu dari sudut yang berbeda.
Maka bergegas saja,
ketika kesedihanmu bukan lagi bermakna keputusasaan namun lebih bernada penyesalan, karena disitu Allah sedang menuntun.
Maka bergegas saja,
ketika dosa tidak lagi menjadi tempat kembali dan kerap merasa tidak nyaman untuk melakukannya, karena disitu Allah menemani.
Maka bergegas saja,
ketika kekhawatiranmu lebih tertuju pada takut kehilangan cinta-Nya, karena disitu tanda taubatmu tak akan bertepuk sebelah tangan.
Maka bergegas saja, karena pada akhirnya pertaubatan bukan seberapa kelam dosa menyelimuti masa lalumu, tapi seberapa jujur engkau berani dan bergegas pulang menuju cahaya-Nya.