Adalah waktu, tiap detiknya berpacu tanpa peduli. Terus melaju meninggalkan kesan dalam kenangan. Rasanya baru sekejap pagi menyapa, di ujung kelam sudah menunggu.
Kehidupan terus bergulir mengikuti irama keadaan yang tak bisa diprediksi alur ceritanya dari sudut pandang manusia. Adakala kesenangan menghampiri, tapi tak menutup kesedihan datang merundung. Satu hari boleh jadi diri berada pada puncak cahaya, esok lusa meredup di titik nestapa. Itulah hidup, suka-duka akan selalu ada membersamai manusia seiring melajunya usia.
Penulis buku Filosofi Teras, Henry Manampiring, pernah mengutip “Survei Khawatir Nasional” di tahun 2017. Simpulan hasilnya cukup mencengangkan: sebanyak 63% dari 3.634 responden merasa lumayan khawatir hingga sangat khawatir menghadapi kehidupan secara umum.
Apa yang salah dari hasil survei tersebut? Bukankah orang berhak cemas dalam hidupnya? Dan bukankah itu naluri yang sejak lahir sudah terpendam dalam jiwa? Benar, namun kekhawatiran bila berlebih mampu menyedot waktu dan uang, menghabiskan energi berpikir, dan tentunya berdampak buruk pada kesehatan tubuh.
“Situasi sulit menciptakan orang yang kuat, orang yang kuat menciptakan kondisi yang baik, sementara kondisi yang nyaman menciptakan orang yang lemah, dan orang yang lemah membuat kondisi menjadi rumit kembali.”
Siklus di atas selaras dengan teori peradaban dalam Mukadimah karya Ibnu Khaldun. Sebuah Sunnatullah yang menggambarkan maju-mundurnya kehidupan manusia. Tidak ada yang abadi; kesulitan akan berganti kemudahan, dan kemudahan seringkali menjadi ujian melenakan.
Menjalani hidup dalam ketidakpastian bukan sekadar mengandalkan kepintaran otak untuk bersaing, namun butuh kecakapan “menyesuaikan diri” sebagai skill bertahan demi meraih ketenangan. Seperti air, fleksibilitasnya mampu mengikuti wadahnya tanpa harus kehilangan jati dirinya sebagai zat cair.
Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, segala urusan adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Jauh hari, Rasulullah SAW telah memberikan rumus adaptasi mental dalam hadist tersebut sebagai isyarat mendalam untuk selalu adaptif di setiap kondisi. Maksudnya jelas, agar manusia tak jumawa saat meninggi, dan tak putus asa dikala rendah.
Filsuf Stoa, Epictetus, pernah berkata: ” Ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, ada hal-hal yang tidak berada di bawah kendali kita.”
Dalam kacamata Islam, teori kendali berada di perbatasan antara ikhtiar dan takdir. Nyatanya semua peristiwa berada di luar kendali manusia, apa yang telah diupayakan juga tetap berpulang pada ketentuan-Nya. Namun, sejatinya keadaan yang ditimpakan Allah selalu bermakna kebaikan, meski nampak buruk rupanya dalam pandangan manusia yang terbatas.
Lalu, bagaimana situasi buruk bisa tetap berwujud sebagai sebuah kebaikan? Benang merahnya ada pada manajemen hati, yang mengerucut pada berprasangka baik kepada Allah dan seni menyesuaikan diri .
Pembenahan persepsi akan mengubah narasi batin seseorang. Memandang peristiwa bukan lagi dengan menggugat “Kenapa ini terjadi padaku?”, melainkan berfokus pada hikmah “Apa yang mau Allah ajarkan dari peristiwa ini padaku?”
Berpikir positif saja belum cukup, dibutuhkan latihan jiwa untuk membangun mental adaptif. Kekuatan mental ini tidak ujug-ujug muncul. Ia bertumbuh melalui proses benturan dan pembiasaan. Itu sebabnya, orang yang sering tertimpa ujian biasanya memiliki kualitas berserah diri pada Allah jauh lebih baik, dan kemampuannya pulih dari keterpurukan semakin teruji.
Di sudut lain, banyak orang mengira ‘kesenangan’ hanya soal menikmati. Padahal, di dalamnya tertera ujian istidraj yang melenakan. Inilah yang dimaksud Ibnu Khaldun sebagai situasi nyaman melahirkan generasi lemah.
Ringkasnya, konsep syukur saat nikmat dan sabar saat musibah adalah dua sayap adaptasi seorang mukmin. Keduanya bermuara pada ridha—sebuah kelapangan hati menerima skenario-Nya. Dari sinilah pertolongan Allah akan hadir sebagai sebuah keberkahan hidup.
Memasuki penghujung tahun 2025, evaluasi diri bukan hanya tentang seberapa banyak capaian materi yang telah diraih, tetapi seberapa dalam diri mampu menyelami hikmah pada setiap peristiwa. Maka, nikmati prosesnya dan maknai momennya, dan yakinlah di setiap hembusan nafas ada rangkaian cerita terbaik yang telah Allah siapkan.