Inspirasi

Luka Ibu

0
(0)

Wanita itu membagi 3 butir kurma pemberian bunda Aisyah RA kepada kedua putrinya, satu tersisa untuk ia santap. Belum lagi sempat memakan, sang ibu gamang melihat tatapan kedua anaknya. Ia mengerti, pandangan menyiratkan rasa lapar yang belum tuntas. Seketika iba menyelinap membangkit naluri keibuan, ia membelah kurma miliknya dan memberikan kembali kepada kedua putrinya, walau ia sendiri menahan perihnya lapar.

Bunda Aisyah tertegun menyaksikan ketulusan wanita sederhana yang menghampiri rumahnya. Ada gores haru tersimpan dalam kalbu. Tapi apa daya hanya 3 butir kurma yang bisa ia beri. Tak kuasa bunda Aisyah memendam rasa, cerita tertumpah tatkala Rasulullah berada di sisi.

“Apa yang mengejutkanmu dari hal itu, wahai Aisyah? Sungguh Allah telah merahmati ibu tersebut karena kasih sayangnya kepada anaknya.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad)

“Allah berkehendak memasukan ibu tersebut ke surga dan atau membebaskannya dari siksa neraka disebabkan kasih sayangnya terhadap anak perempuannya.” (HR. Muslim)

Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Jauh nian jarak terbentang antara kasih ibu dan anak. Kasih dalam hitungan ‘masa’ berbanding sayang sependek ukuran galah.

Andai manusia diberi kenangan saat ia terdampar sunyi di ruang hampa bernama rahim, akankah bertambah ketulusan cinta pada ibunya?

Tahukah engkau, kapan dirimu mulai mandiri bernafas? Ya, di 10 detik pertama ketika engkau dilahirkan. Itulah kenapa engkau menangis, penanda paru-parumu sudah sempurna berfungsi.

Lalu, bagaimana dirimu bisa menghembus, berdetak dan mendapati makanan ketika engkau mendiami rongga penuh cairan yang menyelubungi selama 9 bulan dalam kandungan? Tengok ibumu, atas karunia Allah tali pusatnya menjadi tempatmu bergantung. Dari sanalah engkau menyerap ‘kehidupan’, melalui aliran darah pada plaseta yang terhubung darinya.

Tahukah juga engkau, kenapa Rabb-mu melukiskan dengan kata ” Dan ibunya telah mengandung dalam keadaan bersusah payah yang bertambah-tambah?” Meski subjektifitas untuk setiap ibu, namun skala nyeri saat melahirkan disinyalir bisa mencapai rentang 7 – 10 del.

“Jadi benar, persalinan adalah kondisi yang paling menyakitkan dan tak ada rasa sakit lain yang sebanding dengan sakit persalinan,” ungkap konsultan obstetri dan ginekologi senior Nanavati Max Super Speciality Hospital, dr Suruchi Desai. (Republika.co.id, edisi ahad 18 juni 2023, Rasa sakit melahirkan paling dasyat, lebih nyeri dari patah tulang)

“Dari hasil penelitian nyeri hebat pada proses persalinan menyebabkan ibu mengalami
gangguan psikologis; 87% post partum, blues partum yang terjadi dari 2 minggu pasca persalinan sampai 1 tahun, 10 % depresi dan 3 % dengan psikosa.” (Sri Rejeki dan Bagus Irawan, jurnal unimus .co.id, 2012)

Luka itu nyata adanya, membekas dari gurat yang mendera di tubuh ibu. Jalan lahir yang cedera, kulit nyeri yang terkelupas dari tumpahan asi, sampai pada luka tak nyata memenuhi benak dan rasa ibu.

Tapi, tahukah engkau? Hebatnya rasa sakit itu hilang seketika saat melihat polos wajahmu. Lelahnya tak lagi dirasa, kala memenuhi rengekmu. Sigap terjaga, walau kantuk terusik di malam gulita.

Di hari dalam kehidupanmu ‘ibu selalu ada’, membersamai meski engkau telah tumbuh dewasa. Seiring waktu, tubuhnya mulai melemah dan renta. Polahnya terkadang tidak bisa kau tebak, mungkin bagimu hanya kejengkelan yang datang bertubi. Tapi mengertilah engkau, masa inilah baktimu dinanti.

Engkau telah pandai merangkai kata, bahkan melebihi cakapnya tutur ibumu karena kurangnya ia mengenyam pendidikan. Namun tetaplah merendah, karena tak ada luka terperih bagi ibu selain hardikan dengan nada tinggi yang terlontar dari lisan buah hatinya.

Engkau telah tegak berdiri, bahkan prestasimu melampaui namanya yang nyaris tak terdengar dibalik suksesmu. Namun tetaplah menyapa, karena tak ada luka terperih bagi ibu selain pengabaian dalam diammu.

Sejatinya ibu tak pernah meminta balas atas air susu yang sudah diberi. Ia tetap menerimamu apa adanya dirimu. Maka terimalah ia, di saat kuat dan di waktu lemahnya. Asbab serentanya tubuh ibumu, doanya tetap melangit tertuju padamu.

Permohonannya pada Allah selalu menyerta, menjadikan perisai dalam hidupmu. Maka senjata mana lagi yang lebih dasyat bagimu dari doa dan harap ibu yang mampu memberkahi langkah hidupmu? Peluk dan genggam tangannya. Katakan terima kasih ibu, sebelum raganya meregang dan ucapmu tak lagi terdengar.

#Narasiuntuksivilisasi

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.