Seekor anak jerapah baru dilahirkan, ia terhempas dari ketinggian sekitar 2 meter. Belum lagi tuntas penderitaan, sang induk bergegas menendang anak jerapah yang masih gontai berdiri tak berdaya.
Sepintas tampak perlakuan kasar di luar kelaziman. Tapi itulah hidup. Sang induk bukan tak sayang, bukan tak cinta. Mengandung anak jerapah adalah proses terlama di kalangan mamalia, hampir 15 bulan lamanya. Alangkah naif jika itu dilakukan sebagai tanda kebencian, apalagi induk jerapah hanya bisa melahirkan satu anak di setiap periode kehamilannya.
Induk jerapah tentu lebih paham. Kehidupan ke depan akan lebih kejam. Apalagi anak jerapah sasaran empuk predator buas di belantara. Asbabnya kelahiran anak jerapah memang sunatullah disiapkan.
Jerapah melahirkan dengan posisi berdiri bukan tanpa maksud. Ketika anak jerapah keluar dari jalan lahir, ia akan terpelanting ke tanah. Spontan tali pusat yang terhubung antara induk dan anaknya ikut tertarik dan terputus. Tumbukan saat jatuh sekaligus menstimulan pernafasan anak jerapah agar berkembang secara baik.
Sementara, tindakan sang induk menendang anaknya, menuntut jerapah kecil segera berdiri tegak dan menguatkan otot kaki untuk sigap berlari. Pembelajaran alamiah dari sang induk menjadi bekal menghadapi pemangsa buas di kemudian hari.
Hidup rangkaian perjalanan yang dihimpit oleh kelahiran dan kematian. Terkadang kesempatannya panjang, namun ada pula yang hanya berlalu sejenak. Entah di ufuk mana diri akan berlabuh, semua kembali pada batas yang telah digariskan-Nya.
Kehidupan seyogyanya tempat bertarung, maka berjuang adalah kemestian. Berletih-letih melewati badai silih berganti. Namun kerasnya hidup bukan berarti tak bisa dilewati. Menjumpai kegagalan hal lumrah yang bisa terjadi. Terpenting tak berhenti di tahap kalah ketika usai mencoba.
Lelah? Pastinya, tapi bukankah ketika kecil dahulu kita dipahamkan bahwa diri kerap mengabaikan keletihan saat belajar berjalan? Bangkit, berdiri, tertatih dan jatuh. Kita di masa kecil pantang surut, meski berkali-kali tersungkur dan tergurat. “Nana korobi ya oki, ( jatuh 7 kali bangkit 8 kali)”, demikian pepatah Jepang memaknai.
Kehidupan juga tentang bagaimana seseorang mampu mengambil alih atas dirinya dan bertanggungjawab untuk bertumbuh menurut versi Tuhannya. Disini hidup menawarkan ruang untuk berkembang, menjadi pembelajar di setiap pengalaman dan liku petualangannya. Belajar ketangguhan saat diri merasa lelah. Belajar berpikir lentur, saat kerumitan datang membentur. Dan jua belajar pada setiap sinyal ketidaknyamanan, bahwa diri harus bangkit mengubah keadaan.
Sama halnya ketika alam memberi gambaran kehidupan penuh tantangan, ‘orang besar’ pun berkisah tak pernah sepi dari kesukaran hidup. Bedanya, orang besar mampu bertahan sementara orang kecil tak kuasa meredam. Orang besar bersedia berkorban, orang kecil larut dalam kenyamanan.
Tak menampik pengorbanan ciri khas perjuangan. Dan para pejuang selalu tampil di setiap pengorbanan. Tak soal jika harus bergelut di panggung gemerlap atau di bawah cahaya temaram.
Maka jika hidup adalah perjuangan, berlari ke muka lebih utama.Tak usah memilih duduk di tepi-tepi, karena esensi berjuang punya dua kemungkinanan; menang atau kalah, dan bagi pejuang menang-kalah bermakna sama; kebaikan. Namun untuk seorang pencundang, yang hanya nyaman berdiam diri, baginya ada satu kepastian; kekalahan.
#Narasiuntuksivilisasi