Inspirasi

Tulang Punggung Yang Retak

0
(0)

Ada lelah tersimpan dalam diam. Ada ‘luka’ yang tertahan dalam ketegaran. Keperkasaan laksana simbol pengekang emosi, padahal nun jauh di dasar hati banyak rasa yang hendak diungkap. Lisan membisu tapi hasrat menggebu, inginnya ayah mendekap seraya berucap “aku mencintaimu nak”. Tapi ego menyela hingga lidah kelu kembali.

“Ayah cinta pertama bagi anak perempuannya dan pahlawan bagi anak lelakinya.” Mungkin kalimat tersebut menggelitik buat para ayah, apa kaitannya? Memang tak kasat mata, karena spirit tak nyata tapi bisa dirasa. Bahkan efeknya terus menyala terngiang dalam bilangan usia.

Meminjam simpulan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Studi Fenomenologis, dampak fatherless dapat mempengaruhi perkembangan emosi pada masa remaja. Remaja cenderung menjadi pribadi emosional dan menarik diri saat terbentur masalah. Remaja juga mengalami ketidakstabilan emosi yang jauh lebih besar; kurang percaya diri, menjadi perokok, memiliki keinginan bunuh diri, serta adanya ketakutan untuk membangun rumah tangga di masa depan. (Jurnal Ilmu Perilaku, volume 8, Nomor 1, 2024: 34-50)

Saat hubungan ayah-anak retak, boleh jadi anak memendam kekecewaan. Anak gelisah ketika butuh arah. Tak punya bahu tempat bersandar, menepis gundah dari getirnya kehidupan.

“Gambaran fatherless pada narapidana perempuan dapat dijelaskan melalui hilangnya figur ayah dan keutuhan keluarga. Aspek hilangnya figur ayah menjadi penyebab kedua partisipan terjerumus ke dalam lingkungan pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba.”

Ayah kehadiranmu benar-benar dinanti, demi menatap kenyataan hari ini. Kecemasan menghantui, melihat fenomena generasi. Melonjaknya kasus HIV mengindikasikan pada gejala maraknya LGBT, free sex serta penggunaan obat terlarang. Dan ayah adalah pahlawan yang bisa menekan angka itu.

Memang tak semua tertuju pada ayah. Persepsi sistem patriatik terkadang menggiring pada satu stigma “peran keayahan berkutat di area luaran pada urusan pemenuhan nafkah, sementara kerumahtanggaan ibu yang menghandle.

Sebagai tulang punggung keluarga, ayah diminta hadir bukan sekadar fisik, tetapi juga menyapa ruang rasa pada anak. Mungkin ayah jengah melakoni. Bagaimana bisa menyentuh perasaan buah hati, sementara untuk menangisi atas resah diri ayah sendiri seperti ‘aib’. Hal tabu mengekspresikan sisi sentimental ayah di tengah citra diri perkasa dan keras hidupnya.

Sedikit kata maaf dari ayah atas kondisi yang ada (tak bisa hadir secara penuh) bisa membuka ruang penerimaan di hati anak. Anak cenderung akan terbuka, memaklumi dan mencari celah menerima cinta ayah dari rupa yang ayah bisa.

Di sisi lain, keterbatasan waktu sering menyoal, tapi mendayakan kualitasnya menjadi peluang. Physikal touch misalnya, butuh setidaknya 1 menit untuk memeluk dan mengusap punggung putri ayah, atau menepuk-nepuk bahu putra ayah, kenapa penting?

Menurut Amanda Gordon, psikolog klinis, “Ada berbagai zat kimia yang dirangsang oleh sentuhan fisik, baik pada pemberi maupun penerima, karena kita memiliki reseptor di kulit yang terhubung ke otak. Zat kimia yang memberikan rasa nyaman itu salah satunya adalah oksitosin ( hormon kebahagiaan).”

Teruntuk cinta pertama dan pahlawan dalam senyap:

Fenomena fatherless diungkap, bukan hendak menyudutkan apalagi mengebiri peran ayah. Ketulusan cinta ayah terkadang mampu ditangkap buah hati dari beratnya beban hidup. Telapak tangan yang mengeras, tubuh yang kian ringkih dan kerutan di dahi yang terus bertambah.

Dan nyatanya cinta tak selalu larut dalam gombalan kata, masih banyak cara yang bisa dicoba. Ketulusan tak berkorelasi dengan abai tanggung jawab. Ayah yang tulus mencintai, pancarannya mampu menembus relung hati. Walau cintanya terpendam dan kepahlawanannya berjuang dalam sepi.

Ayah aku padamu…

Pada ayah diri belajar untuk tangguh. Menghargai setiap peluh yang keluar tanpa lelah dan keluh.

Pada ayah diri belajar meredam malu, bersemangat mengais rezeki dari segala rupa jalan. Asal halal tak ada yang hina.

Pada ayah diri belajar berani berkata tidak dari segala wujud kerusakan yang menerpa. Tegak di atas kebajikan meski berdiri di kaki sendiri.

Dan pada ayah diri belajar lapang menerima yang sedikit. Selayak penerimaan ayah atas diri ini. Mencintai sepenuh hati, apa adanya dan tanpa syarat.

Selamat Hari Ayah

#Narasiuntuksivilisasi

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.