Tidak semua yang “terlambat” itu gagal. Dan tidak semua yang gagal itu tak akan menemui kesuksesan pada akhirnya. J.K. Rowling misalnya, penulis serial legendaris Harry Potter. Novel gagasannya lahir pada tahun 1990, namun baru bisa diterbitkan tujuh tahun kemudian, setelah mengalami penolakan dari 12 penerbit. Peluang emas didapat saat Bloomsbury Publishing merilisnya pada tahun 1997.
Di luar dugaan, Harry Potter merajai dunia literasi dan memecahkan rekor penjualan tercepat pada 2007, yakni sebanyak 2,65 juta eksemplar habis hanya dalam sehari di Inggris. Kisah penyihir cilik ini bahkan sukses besar saat diadaptasi ke layar lebar.
Meski mendapat penolakan berkali-kali dan hampir menyerah di titik terendah, J.K. Rowling memilih bertahan di sisa semangatnya. Tentu bisa ditebak jika waktu itu ia memutuskan berhenti menawarkan naskahnya, cerita Harry Potter tak akan pernah ada dan ia tak akan meraup kekayaan yang ditaksir lebih dari 14 triliun.
Siklus hidup manusia rata-rata memiliki pola yang sama seperti J.K. Rowling; suatu saat bertemu fase kelelahan dan kebuntuan. Ada kala diri merasa stagnan atas kerja keras yang dilakukan, sering merasa tak berharga, lemah, dan tak berdaya.
Seth Godin, dalam bukunya The Dip: A Little Book That Teaches You When to Quit (and When to Stick), menyebut kurva the dip sebagai sebuah kondisi ketika grafik semangat atau hasil kembali melandai setelah sempat meninggi. Tahap ini disebut fase krusial karena kurva bisa naik melesat atau justru diam tak bergerak. Dalam hidup, fase the dip sering dianggap sebagai kemunduran sementara, di mana diri kerap dihadapkan pada kebuntuan; merasa apa yang diupayakan berjalan lambat dan tanpa progres.
Jauh hari, fase the dip sudah mendapat perhatian dalam perspektif Islam. Kejemuan akan ditemui dalam kehidupan manusia, oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya mengabarkan bahwa terus bergerak (konsistensi) walaupun takarannya sederhana bagian dari antisipasti terhentinya sebuah amal. Konsistensi juga digambarkan sebagai ikhtiar yang paling disenangi dan akan memperoleh kemenangan.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqomah (konsisten) pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) kemenangan (surga) yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.” [QS. Fushilat: 30]
” Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu ( konsisten) walaupun itu sedikit.” [HR.Muslim]
Dari itu, bertahan untuk tetap melangkah di fase the dip menjadi sangat penting, karena pada tahap ini berlaku penyaringan antara mereka yang sekedar mencoba dan mereka yang benar- benar ingin sukses. Meski terkesan lambat, bila tetap bergerak dan mencoba di saat jenuh, niscaya proses itu akan mengantarkan pada pencapaian yang lebih gemilang.
Namun jangan berkecil hati, kalaupun hasil belum terlihat sempurna, tak ada kesia-siaan ketika diri terus berupaya. Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik sebagai bekal pengalaman di masa depan. Selain itu, diri akan semakin menghargai setiap proses sebagai bentuk kematangan untuk bertumbuh.
Kita tak menampik, terlalu berkutat pada hasil terkadang membuat orang abai bahwa proses adalah bagian terpenting dari sebuah perjalanan. Apalagi di era ketergesaan (hustle culture ), semua orang berlomba mendapatkan segala sesuatu secara instan. “Tahapan melangkah” sering kali terbengkalai dan tak lagi diresapi. Diri menjadi frustrasi karena sibuk membandingkan pencapaian pribadi dengan orang lain.
Padahal kembali saja kepada diri sendiri untuk menemukan makna dan pesonanya. Sekecil apa pun langkah adalah anak tangga yang sudah dinaiki. Lambat bukan berarti tertinggal, karena alur hidup seseorang punya ritme dan jalur tempuhnya masing-masing.
Tak mengapa bila belum sampai di titik tertinggi. Selagi tak berhenti, maka tak ada yang tak berarti. Konsistensi akan membantu menemukan jalan dari satu tahap ke tahap lainnya, serta menstimulasi celah baru agar diri bisa menjemput apa yang telah ditakdirkan.
Tak mengapa juga bila gagal kembali. Rasa sakitnya hanya sebentar dan akan segera pulih. Yang terpenting, jangan sampai kelak diri meratapi penyesalan. Bukan, bukan karena pernah gagal, melainkan karena tak pernah berani mencoba dan tak mau bangkit kembali ketika tersandung kegagalan.
#Narasiuntuksivilisasi