Inspirasi

Andai Waktu Kembali

0
(0)

Kebiasaan lelaki itu menempati area pojok masjid, saat waktu shalat berjama’ah maupun ketika itikaf. Semua sudah mafhum. Alasannya sederhana, ia tak mau mengganggu kebanyakan orang yang beraktifitas di masjid.

Suatu subuh, Rasulullah tak mendapati lelaki tersebut. Hingga pelaksanaan shalat sempat ditunda beberapa saat untuk menunggunya hadir. Namun yang dinanti tetap tak nampak, akhirnya shalat subuh pagi itu pun tak disertai Sya’ban.

Usai shalat, Rasulullah menanyakan kabar Sya’ban kepada jama’ah. Namun tak satu pun yang paham keberadaannya. Akhirnya sang Nabi memutuskan mendatangi rumah Sya’ban bersama beberapa sahabat.

Menjelang dhuha, Rasulullah dan beberapa sahabat baru tiba di kediaman Sya’ban. Jarak dari rumah Sya’ban menuju masjid menghabiskan waktu yang cukup lama dengan berjalan kaki.

Ternyata Sya’ban wafat! Sungguh, ketidakhadirannya dalam shalat jama’ah pagi itu di masjid adalah sebab hidupnya di dunia telah berakhir. Syahdan, selama mengenal islam ia berkomitmen senantiasa berjama’ah di masjid, meski jarak jauh ditempuh.

Sang istri sedih atas kepergian Sya’ban. Di sela tangisnya ia mengungkapkan kejanggalan saat sakaratul maut menghampiri Sya’ban kepada Rasulullah. Ia mendengar Sya’ban berteriak dengan kata yang tak dimengerti.
Teriakan pertama “Aduh kenapa tak lebih jauh”. Teriakan kedua ” Aduh kenapa bukan yang baru” dan teriakan ketiga “Aduh kenapa tidak semuanya.”

Sejenak sang Nabi terdiam, bermunajat mengharap petunjuk. Rasulullah pun menerangkan perihal yang ditanyakan istri Sya’ban.

Setiap hari Sya’ban jama’ah shalat ke masjid Nabawi menempuh jarak yang cukup jauh, ketika menjelang kematiannya Allah tampakan kenikmatan surga atas hasil jerih payahnya menekuni perjalanannya dengan ketulusan. Dan demi menyaksikan nikmat tak terhingga di surga, maka ia berseru, “aduh andai lebih jauh lagi jarak yang aku tempuh.”

Kemudian pernah suatu ketika, Sya’ban keluar rumah dalam kondisi cuaca yang sangat dingin. Hingga ia menggunakan dua mantel menyelimuti diri. Satu mantel dalam yang masih baru dan satu mantel lebih usang dipakai sebagai lapisan luarnya. Ketika diperjalanan ia jumpai seorang renta yang hampir mati kedinginan. Tanpa berfikir diberikan mantel terluar untuk sang kakek hingga tertolong dari kedinginan. Tak kala sakaratul menjemput Sya’ban diperlihatkan Allah ganjaran atas perbuatannya ini. Ia takjub dan merasa menyesal kenapa tidak memberikan yang lebih baik dengan mantelnya yang baru.

Dan saat detik Sya’ban menghembuskan nafas terakhirnya. Ia diperlihatkan gambaran kenikmatan surga atas amalnya yang pernah ia lakukan. Dimana ketika suatu hari ia akan makan roti yang dicelup susu, tetiba ia melihat orang yang kelaparan. Tanpa fikir panjang Sya’ban membagi separuh rotinya untuk orang tersebut. Dan ini menjadi penyesalan Sya’ban, demi melihat ganjaran luar biasa, kenapa ia dulu tidak membagi rotinya semua kepada orang yang lapar tersebut.

Penyesalan selalu menempati posisi diujung dari sebuah tindakan. Memaksimalkan sebuah ruang kesempatan beramal, dalam hal ini amal kebajikan, masih dirasa berat. Berbagai pertimbangan, terkadang membelenggu niat, menghambat pada kebaikan yang lebih sempurna untuk dilakukan.

Penyesalan Sya’ban di akhir hayat, karena ia merasa kurang memaksimalkan apa yang pernah dilakukan, bukan sebab ia tidak melakukan. Itu pun sudah membuat penyesalan mendalam. Apakah lagi bagi kita yang menunda kesempatan atau meninggalkannya, saat kebajikan mengetuk pintu hati, menghampiri, karena kita dianggap layak mampu memenuhinya.

Ironisnya lagi ketika menolak suatu kebenaran, padahal ia nyata membawa tanda sebagai dalil penyokongnya. Sungguh sebuah penyesalan berujung petaka.

Fir’aun bukan tidak mengakui keesaan Allah. Ia mengakui Allah sebagai tuhan semesta. Namun kesempatan bertaubatnya telah habis, terlambat, di batasi ruh yang sudah keluar sampai kerongkongannya.

Allah SWT menerima tobat hamba-Nya selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).” (HR Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Dan tidaklah tobat itu diterima Allah dari orang-orang yang melakukan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan ‘sebenarnya aku mengonversi sekarang’. Dan tidak (pula diterima tobat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami menyediakan siksa yang pedih”. (QS An Nisa Ayat 18).

Pada akhirnya, penyesalan disinyalir Al Qur’an akan didapati pada orang yang telah beramal ataupun yang tak beramal. Orang yang beramal merasa kurang maksimal atas amalnya demi melihat ganjaran kenikmatan yang istimewa, sementara orang yang tidak beramal merasa sangat menyesal atas kelalaiannya selama di dunia, demi menyaksikan kengerian balasan atasnya.
Hingga keinginan dikembalikan ke dunia untuk melakukan dan meningkatkan amalan menjadi prioritas bagi manusia. Berharap di kehidupan yang kedua, menjadikan diri sebagai hamba sesuai mau Tuhan.

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin”. (Qs. As-Sajda:12)

Dari Anas Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :  beliau bersabda, “Tiada seorangpun yang telah masuk surga lalu ingin kembali ke dunia untuk memperoleh sesuatu yang ada di dalamnya kecuali orang yang mati syahid (syuhada). Dia berharap untuk kembali ke dunia sehingga terbunuh kembali (sebagai syahid) sebanyak sepuluh kali, karena apa yang didapakannya dari kemuliaan (bagi para syuhada).” (Muttafaq ‘alaihi)

Berbuat kebajikan sekemampuan dalam batas kemaksimalan yang diketahui diri, lebih baik. Asbab dapat memperingan penyesalan dibanding tidak melakukan apapun atas kebaikan yang membentang di hadapan.

Referensi:

  • Angan-angan Orang Menyesal Setelah Mati, alhikmah.ac.id, edisi 06 Juni 2014
  • Afrizal, Menyesal Adalah Fitrah, uin-suska.ac.id, edisi 15 Mei 2016

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.