Inspirasi

Memintas Takdir

0
(0)

Berkisah Abi Dunya dari Al Hasan , tentang sahabat Anshar Abu Mu’allaq. Seorang pekerja keras yang mencapai kesuksesan dalam perniagaan. Namun demikian keberlimpahan harta tak membuatnya lalai dan jumawa. Abu Mu’allaq tetap rendah hati, sangat berhati- hati pada urusan harta, terutama untuk harta yang haram. Disamping itu juga Abu Mu’allaq seorang abid yang disegani.

Suatu ketika, Abu Mu’allaq melakukan perjalanan seorang diri. Menyusuri gurun dalam kegelapan malam. Tanpa diduga, penyamun menghadang, meminta harta dan jiwa. Abu Mu’allaq berupaya tenang, meminta waktu untuk shalat dua rakaat sebelum penyamun membunuhnya. Permintaan pun diberi.Berserah diri Abu Mu’allaq pada Allah. Bermohon ia untuk keselamatan dan kebaikan diri,

Tak berapa lama, tampak penunggang kuda dengan pedang terhunus, meluncur cepat.Tanpa kata dan tanya, kilatan pedang menyabar tubuh sang penyamun, roboh seketika!

Abu Mu’allaq terkejut, demi meyaksikan kejadian tak terduga di luar nalar.
“Siapa engkau?” Tanya Abu Mu’allaq saat diri mulai terkendali.
” Aku malaikat dilangit keempat, aku mendengar bisikan di pintu langit saat do’a pertama terlantun. Di do’a kedua, aku mendengar sekilas kata- kata do’a, di antara penghuni langit. Dan saat do’a pamungkas aku mengerti ada hamba yang butuh pertolongan. Aku memohon kepada Allah, untuk ditugaskan turun membantumu, dan Allah menghendaki. Terkesima Abu Mu’allaq, teringat akan do’anya, yang diulang 3 kali. [1]

Wahai Zat Maha Pengasih wahai Maha Pengasih, Wahai Pemilik ‘Arsy yang terhormat, wahai Pelaksana segala apa yang Engkau kehendaki, aku meminta kepadamu dengan kemuliaan-Mu yang tak terkurangi, lewat singgasanumu yang tak terbinasakan, dan atas cahaya-Mu yang menyinari sendi-sendi singgasana-Mu, hendaknya engkau jauhkan keburukan pencuri ini. Wahai Penolong, tolonglah hamba-Mu.”

Doa adalah penghubung, bentuk komunikasi hamba dengan Rabb-nya. Doa mencirikan hamba yang paham akan keberadaan dirinya, sebagai makhluk lemah. Bak sebutir debu diantara luasnya hamparan padang pasir.

Ibnu Qayyim mengatakan “ Doa adalah obat yang paling bermanfaat, dialah lawan bala’, yang akan menolak, membereskan dan menahannya agar tidak terjadi, serta akan mengangkat atau meringankan bila benar-benar terjadi, dialah senjata orang-orang beriman. Doa merupakan pintu yang agung, bila seorang hamba mengetuknya, akan datang kepadanya kebaikan yang berturut-turut dan berkah yang melimpah.” [2]

Dasyatnya doa, menghantar sang pemohon memperoleh kecintaan Rabb-nya. Bagaimana tidak, dalam doa ada tahap dimana seorang hamba merendahkan dirinya di hadapan Allah, yang semakna dengan definisi ibadah.

Dalam doa, pun masih ada celah mengubah takdir atas kehendak Allah, dengan balutan ikhtiar dan tawakal. Artinya secara tak langsung rangkaian ikhtiar, doa dan tawakal sedikit banyak mempengaruhi perjalanan hidup hamba, yang sering dinamai istilah takdir.

Kenapa seringnya kita menyalahkan takdir yang menimpa, padahal Allah membuka ruang pada sebagian takdir yang masih bisa diupayakan kebaikannya.

Bila akhirnya takdir tetap menghampiri, ia masih bisa dijalani dengan tetap mengutai doa, hingga takdir masih bisa dirasai dengan keberkahan, meski yang tampak adalah kesulitan. Karena boleh jadi Allah sedang menghendaki kebaikan dalam rupa kesempitan hidup. Bukan Allah tidak menepati janji pada insan yang berdoa. Karena janji-Nya adalah kepastian.

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” – Q.S. Al-Mu’min [40]: 60

Doa dan takdir, bertemu dalam rangkaian ikhtiar dan tawakal. Memenuhi prasyarat dalam menjalani prosesnya menjadi bagian tak boleh terabaikan.

“Bagaimana engkau menginginkan sesuatu yang luar biasa padahal engkau sendiri tidak mengubah dirimu dari kebiasaanmu? Kita banyak meminta, banyak berharap kepada Allah, tapi sibuknya meminta kadang membuat kita tak sempat menilai diri sendiri.”(Ibnu Athaillah)

Setiap kita punya impian, namun juga memiliki jalan hidup yang telah di digariskan oleh-Nya. Melintasi takdir dengan rangkaian ikhtiar, do’a dan tawakal, memberi kesempatan menunju kehidupan yang jauh lebih baik, memberi keberkahan dalam setiap urusan. [3]

Referensi:

  • Kekuatan Doa Seorang Wali, Republika [dot] co [dot] id, edisi 04 Juli 2023
  • Khansiatun, Cek, 2015, Urgensi Doa dalam Kehidupan, Serambi Tarbawi, 3(1), Hal 107
  • Marpaung, Parlindungan, 2007, Fullfiling Life Merayakan Hidup yang Bukan Main, Bandung, MQ Publishing, Hal 156-157

How useful was this post?

Click on a star to rate it!

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.